Gobekasi Angina Pektoris
Cari Berita

Advertisement

Gobekasi Angina Pektoris

Ndaru Im
Tuesday, November 20, 2018

Angina Pektoris
No. ICPC II : K74 Ischaemic herat disease with angina
No. ICD X : I20.9 Angina pectoris, unspecified
Tingkat Kemampuan: 3B

Masalah Kesehatan
Angina pektoris ialah suatu sindrom klinis berupa serangan nyeri dada yang khas, yaitu menyerupai rasa ditekan atau terasa berat di dada yang sering menjalar ke lengan kiri. Nyeri dada tersebut biasanya timbul pada ketika melakukan aktivitas dan segera hilang bila acara dihentikan.

Angina pektoris merupakan tanda klinis pertama pada sekitar 50% pasien yang mengalami penyakit jantung koroner. Angina pektoris dilaporkan terjadi dengan rata-rata bencana 1,5% tergantung pada jenis kelamin, umur, pasien dan faktor risiko. Data dari studi Framingham pada tahun 1970 dengan studi kohort diikuti selama 10 tahun memperlihatkan prevalensi sekitar 1,5% untuk wanita dan 4,3% untuk laki-laki berusia 50 – 59 tahun.

Anamnesis
Keluhan
Pasien tiba dengan keluhan nyeri dada yang khas, yaitu menyerupai rasa ditekan atau terasa berat menyerupai ditimpa beban yang sangat berat. Diagnosis seringkali berdasarkan keluhan nyeri dada yang mempunyai ciri khas sebagai berikut:
a. Letak

Sering pasien mencicipi nyeri dada di tempat sternum atau di bawah sternum (substernal), atau dada sebelah kiri dan kadang-kadang menjalar ke lengan kiri, sanggup menjalar ke punggung, rahang, leher, atau ke lengan kanan. Nyeri dada juga sanggup timbul di tempat lain seperti di tempat epigastrium, leher, rahang, gigi, bahu.

b. Kualitas
Pada angina, nyeri dada biasanya menyerupai tertekan benda berat, atau seperti diperas atau terasa panas, kadang kala hanya mengeluh perasaan tidak lezat di dada alasannya yaitu pasien tidak sanggup menjelaskan dengan baik, lebih-lebih bila pendidikan pasien kurang.

c. Hubungan dengan aktivitas
Nyeri dada pada angina pektoris biasanya timbul pada ketika melakukan aktivitas, contohnya sedang berjalan cepat, tergesa-gesa, atau sedang berjalan mendaki atau naik tangga. Pada perkara yang berat aktivitas ringan menyerupai mandi atau menggosok gigi, makan terlalu kenyang, emosi, sudah sanggup menjadikan nyeri dada. Nyeri dada tersebut segera hilang bila pasien menghentikan aktivitasnya. Serangan angina dapat timbul pada waktu istirahat atau pada waktu tidur malam.

d. Lamanya serangan
Lamanya nyeri dada biasanya berlangsung 1-5 menit, kadang-kadang perasaan tidak lezat di dada masih terasa setelah nyeri hilang. Bila nyeri dada berlangsung lebih dari 20 menit, mungkin pasien mendapat serangan infark miokard akut dan bukan angina pektoris biasa. Pada angina pektoris sanggup timbul keluhan lain menyerupai sesak napas, perasaan lelah, kadang kala nyeri dada disertai keringat dingin.

e. Nyeri dada bisa disertai keringat hambar , mual, muntah, sesak dan pucat.

Faktor Risiko
Faktor risiko yang tidak sanggup diubah:
a. Usia
Risiko meningkat pada laki-laki datas 45 tahun dan perempuan diatas 55 tahun (umumnya setelah menopause)
b. Jenis kelamin
Morbiditas jawaban penyakit jantung koroner (PJK) pada laki-laki dua kali lebih besar dibandingkan pada perempuan, hal ini berkaitan dengan estrogen endogen yang bersifat protektif pada perempuan. Hal ini terbukti insidensi PJK meningkat dengan cepat dan jadinya setara dengan laki-laki pada perempuan setelah masa menopause.
c. Riwayat keluarga
Riwayat anggota keluarga sedarah yang mengalami penyakit jantung koroner sebelum usia 70 tahun merupakan faktor risiko terjadinya PJK.

Faktor risiko yang sanggup diubah:
A. Mayor
  1. Peningkatan lipid serum
  2. Hipertensi
  3. Merokok
  4. Konsumsi alkohol
  5. Diabetes Melitus
  6. Diet tinggi lemak jenuh, kolesterol dan kalori

B. Minor
  1. Aktivitas fisik kurang
  2. Stress psikologik
  3. Tipe kepribadian
Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Fisik
A. Sewaktu angina sanggup tidak memperlihatkan kelainan. Walau jarang pada auskultasi sanggup terdengar derap atrial atau ventrikel dan murmur sistolik di tempat apeks. Frekuensi denyut jantung sanggup menurun, menetap atau meningkat pada waktu serangan angina.
B. Dapat ditemukan pembesaran jantung.

Pemeriksaan Penunjang
A. EKG
Gambaran EKG ketika istirahat dan bukan pada ketika serangan angina sering masih normal. Gambaran EKG sanggup memperlihatkan bahwa pasien pernah menerima infark miokard di masa lampau. Kadang-kadang menunjukkan pembesaran ventrikel kiri pada pasien hipertensi dan angina; sanggup pula memperlihatkan perubahan segmen ST atau gelombang T yang tidak khas. Pada ketika serangan angina, EKG akan menunjukkan depresi segmen ST dan gelombang T sanggup menjadi negatif.

Gambaran EKG penderita angina tak stabil/ATS sanggup berupa depresi segmen ST, inversi gelombang T, depresi segmen ST disertai inversi gelombang T, elevasi segmen ST, kendala cabang ikatan His dan bisa tanpa perubahan segmen ST dan gelombang T. Perubahan EKG pada ATS bersifat sementara dan masing-masing sanggup terjadi sendiri-sendiri ataupun bersamaan. Perubahan tersebut timbul di ketika serangan angina dan kembali ke citra normal atau awal setelah keluhan angina hilang dalam waktu 24 jam. Bila perubahan tersebut menetap setelah 24 jam atau terjadi evolusi gelombang Q, maka disebut sebagai IMA.

B. Foto toraks
Foto rontgen dada sering memperlihatkan bentuk jantung yang normal; pada pasien hipertensi sanggup terlihat jantung membesar dan kadang-kadang tampak adanya kalsifikasi arkus aorta.

Diagnosis
Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, investigasi fisik, dan penunjang.

Klasifikasi Angina
A. Stable Angina Pectoris (angina pectoris stabil)
Keluhan nyeri dada timbul bila melaksanakan suatu pekerjaan, sesuai dengan berat ringannya pencetus, dibagi atas beberapa tingkatan:
1. Selalu timbul sehabis latihan berat.
2. Timbul sehabis latihan sedang ( jalan cepat 1/2 km)
3. Timbul waktu latihan ringan (jalan 100 m)
4. Angina timbul bila gerak tubuh ringan (jalan biasa)

B. Unstable Angina Pectoris (angina pectoris tidak stabil/ATS) di masyarakat biasa disebut Angin Duduk.
Bentuk ini merupakan kelompok suatu keadaan yang sanggup berubah seperti keluhan yang bertambah progresif, sebelumnya dengan angina stabil atau angina pada pertama kali. Angina sanggup terjadi pada saat istirahat maupun bekerja. Pada patologi biasanya ditemukan daerah iskemik miokard yang mempunyai ciri tersendiri.

C. Angina prinzmetal (Variant angina)
Terjadi tanpa peningkatan terang beban kerja jantung dan pada kenyataannya sering timbul pada waktu beristirahat atau tidur. Pada angina prinzmetal terjadi spasme arteri koroner yang menimbulkan iskemi jantung di bab hilir. Kadang-kadang tempat spasme berkaitan dengan arterosklerosis.

Klasifikasi Angina Pektoris menurut Canadian Cardiovascular Society Classification System
a. Kelas I: Pada acara fisik biasa tidak mencetuskan angina. Angina akan muncul ketika melaksanakan peningkatan acara fisik (berjalan cepat, olahraga dalam waktu yang lama).
b. Kelas II: Adanya pembatasan acara sedikit/ acara sehari-hari (naik tangga dengan cepat, jalan naik, jalan setelah makan, stres, dingin).
c. Kelas III: Benar-benar ada pembatasan acara fisik alasannya yaitu sudah timbul tanda-tanda angina ketika pasien gres berjalan 1 blok atau naik tangga baru 1 tingkat.
d. Kelas IV: Tidak bisa melaksanakan acara sehari-sehari, tidak nyaman, untuk melaksanakan acara sedikit saja bisa kambuh, bahkan waktu istirahat juga bisa terjadi angina.

Diagnosis Banding
a. Gastroesofageal Refluks Disease (GERD)
b. Gastritis Akut

Komplikasi
Infark Miokard

Penatalaksanaan Komprehensif
Penatalaksanaan
Modifikasi gaya hidup:
  • mengontrol emosi dan mengurangi kerja yang berat dimana membutuhkan banyak oksigen dalam aktivitasnya
  • mengurangi konsumsi kuliner berlemak
  • menghentikan konsumsi rokok dan alkohol
  • menjaga berat tubuh ideal
  • mengatur rujukan makan
  • melakukan olah raga ringan secara teratur
  • jika mempunyai riwayat diabetes tetap melaksanakan pengobatan diabetes secara teratur
  • melakukan kontrol terhadap kadar serum lipid.
  • Mengontrol tekanan darah.

Terapi farmakologi:
A. Nitrat dikombinasikan dengan β-blocker atau Calcium Channel Blocker (CCB) non dihidropiridin yang tidak meningkatkan heart rate (misalnya verapamil, diltiazem). Pemberian takaran pada serangan akut :
1. Nitrat 10 mg sublingual sanggup dilanjutkan dengan 10 mg peroral sampai menerima pelayanan rawat lanjutan di Pelayanan sekunder.
2. Beta bloker:
• Propanolol 20-80 mg dalam takaran terbagi atau
• Bisoprolol 2,5-5 mg per 24 jam.
3. Calcium Channel Blocker (CCB)
Dipakai bila Beta Blocker merupakan kontraindikasi.
• Verapamil 80 mg (2-3 kali sehari)
• Diltiazem 30 mg ( 3-4 kali sehari)

B. Antipletelet:
Aspirin 160-320 mg sekali minum pada akut.

C. Oksigen dimulai 2 liter/ menit

Konseling dan Edukasi
Memberitahu individu dan keluarga untuk:
a. Mengontrol emosi, mengurangi kerja yang berat dimana membutuhkan banyak oksigen dalam aktivitasnya.
b. Melakukan rujukan hidup sehat menyerupai mengurangi konsumsi makanan berlemak, menghentikan konsumsi rokok dan alkohol, menjaga berat badan ideal, mengatur rujukan makan, melaksanakan olah raga ringan secara teratur.

Kriteria Rujukan
Dilakukan rujukan ke layanan sekunder (spesialis jantung/spesialis penyakit dalam) untuk tatalaksana lebih lanjut

Prognosis
Prognosis umumnya dubia ad bonam bila dilakukan tatalaksana dini dan tepat.
Gobekasi Angina Pektoris Gobekasi Angina Pektoris
REDAKSI :
Judul Article : Gobekasi Angina Pektoris
Link Judul : Gobekasi Angina Pektoris
Gobekasi Angina Pektoris https://www.gobekasi.co.id/2018/11/gobekasi-angina-pektoris.html Silakan Baca Artikel Selanjutnya Di Bawah Ini