Gobekasi Demam Tifoid
Cari Berita

Advertisement

Gobekasi Demam Tifoid

Ndaru Im
Tuesday, November 20, 2018

Masalah Kesehatan
Demam tifoid banyak ditemukan di masyarakat perkotaan maupun di pedesaan. Penyakit ini erat kaitannya dengan kualitas higiene pribadi dan sanitasi lingkungan yang kurang baik. Di Indonesia bersifat endemik dan merupakan problem kesehatan masyarakat. Dari telaah kasus di rumah sakit besar di Indonesia, tersangka demam tifoid menawarkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun dengan rata-rata kesakitan 500/100.000 penduduk dan angka janjkematian antara 0.6–5% (KMK, 2006).

Anamnesis
Keluhan
Pasien tiba ke dokter sebab demam. Demam turun naik terutama sore dan malam hari (demam intermiten). Keluhan disertai dengan sakit kepala (pusing-pusing) yang sering dirasakan di area frontal, nyeri otot, pegal-pegal, insomnia, anoreksia dan mual muntah. Selain itu, keluhan sanggup pula disertai gangguan gastrointestinal berupa konstipasi dan meteorismus atau diare, nyeri abdomen dan BAB berdarah. Pada anak sanggup terjadi kejang demam. Demam tinggi sanggup terjadi terus menerus (demam kontinu) hingga ahad kedua.

Faktor Risiko 

Higiene pribadi dan sanitasi lingkungan yang kurang.

Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Fisik
a. Suhu tinggi.
b. Bau lisan sebab demam lama.
c. Bibir kering dan kadang pecah-pecah.
d. Lidah kotor dan ditutup selaput putih (coated tongue), jarang ditemukan pada anak.
e. Ujung dan tepi pengecap kemerahan dan tremor.
f. Nyeri tekan regio epigastrik (nyeri ulu hati).
g. Hepatosplenomegali.
h. Bradikardia relatif (peningkatan suhu badan yang tidak diikuti oleh peningkatan frekuensi nadi).

Pemeriksaan fisik pada keadaan lanjut
a. Penurunan kesadaran ringan sering terjadi berupa apatis dengan kesadaran menyerupai berkabut. Bila klinis berat, pasien sanggup menjadi somnolen dan koma atau dengan gejala-gejala psikosis (organic brain syndrome).
b. Pada penderita dengan toksik, tanda-tanda delirium lebih menonjol.

Pemeriksaan Penunjang
a. Darah perifer lengkap
Hitung lekosit total menawarkan leukopeni (<5000 per mm3), limfositosis relatif, monositosis, aneosinofilia dan trombositopenia ringan. Pada ahad ketiga dan keempat sanggup terjadi penurunan hemaglobin tanggapan perdarahan jago dalam abdomen.
b. Pemeriksaan serologi Widal
Dengan titer O 1/320 diduga berpengaruh diagnosisnya ialah demam tifoid. Reaksi widal negatif tidak menyingkirkan diagnosis tifoid. Diagnosis demam tifoid dianggap niscaya kalau didapatkan kenaikan titer 4 kali lipat pada investigasi ulang dengan interval 5-7 hari. Tes lain yang lebih sensitif dan spesifik terutama untuk mendeteksi benjol akut tifus khususnya Salmonella serogrup D dibandingkan uji Widal dan dikala ini sering dipakai sebab sederhana dan cepat ialah tes TUBEX®. Tes ini memakai teknik aglutinasi dengan memakai uji hapusan (slide test) atau uji tabung (tube test).

Diagnosis
Diagnosis Klinis
Suspek demam tifoid (Suspect case)
Dari anamnesis dan investigasi fisik didapatkan tanda-tanda demam, gangguan kanal cerna dan petanda gangguan kesadaran. Diagnosis suspek tifoid hanya dibentuk pada pelayanan kesehatan dasar.

Demam tifoid klinis (Probable case)
Suspek demam tifoid didukung dengan citra laboratorium yang menawarkan tifoid.

Diagnosis Banding
a. Demam berdarah dengue.
b. Malaria.
c. Leptospirosis.

Komplikasi
Biasanya terjadi pada ahad kedua dan ketiga demam. Komplikasi antara lain perdarahan, perforasi, sepsis, ensefalopati, dan benjol organ lain:
a. Tifoid toksik (Tifoid ensefalopati)
Penderita dengan sindrom demam tifoid dengan panas tinggi yang disertai dengan kekacauan mental hebat, kesadaran menurun, mulai dari delirium hingga koma.
b. Syok septik
Penderita dengan demam tifoid, panas tinggi serta gejala-gejala toksemia yang berat. Selain itu, terdapat tanda-tanda gangguan hemodinamik menyerupai tekanan darah turun, nadi halus dan cepat, keringat hambar dan akral dingin.
c. Perdarahan dan perforasi intestinal (peritonitis)
Komplikasi perdarahan ditandai dengan hematoschezia. Dapat juga diketahui dengan investigasi feses (occult blood test). Komplikasi ini ditandai dengan tanda-tanda akut abdomen dan peritonitis. Pada foto polos abdomen 3 posisi dan investigasi klinis bedah didapatkan gas bebas dalam rongga perut.
d. Hepatitis tifosa
Kelainan berupa ikterus, hepatomegali, dan kelainan tes fungsi hati.
e. Pankreatitis tifosa
Terdapat tanda pankreatitis akut dengan peningkatan enzim lipase dan amylase. Tanda ini sanggup dibantu dengan USG atau CT Scan.
f. Pneumonia.
Didapatkan tanda pneumonia yang Diagnosisnya dibantu dengan foto polos toraks.

Rencana Penatalaksanaan Komprehensif
Penatalaksanaan
a. Terapi suportif sanggup dilakukan dengan:
1. Istirahat tirah baring dan mengatur tahapan mobilisasi.
2. Diet tinggi kalori dan tinggi protein.
3. Konsumsi obat-obatan secara rutin dan tuntas.
4. Kontrol dan monitor tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, kesadaran), kemudian dicatat dengan baik di rekam medik pasien.
b. Terapi simptomatik untuk menurunkan demam (antipiretik) dan mengurangi keluhan gastrointestinal.
c. Terapi definitif dengan dukungan antibiotik. Antibiotik lini pertama untuk demam tifoid ialah kloramfenikol, ampisilin atau amoksisilin (aman untuk penderita yang sedang hamil), atau trimetroprim sulfametoxazole (kotrimoksazol).
d. Bila dukungan salah satu antibiotik lini pertama dinilai tidak efektif, sanggup diganti dengan antibiotik lain atau dipilih antibiotik lini kedua yaitu Ceftriaxone, Cefotaxime (diberikan untuk remaja dan anak), Kuinolon (tidak dianjurkan untuk anak <18 tahun sebab dinilai mengganggu pertumbuhan tulang).

Berikut tabel pilihan antibiotik untuk demam tifoid klik di sini

Indikasi demam tifoid dilakukan perawatan di rumah atau rawat jalan:
a. Pasien dengan tanda-tanda klinis yang ringan, tidak ada tanda-tanda komplikasi serta tidak ada komorbid yang membahayakan.
b. Pasien dengan kesadaran baik dan sanggup makan minum dengan baik.
c. Pasien dengan keluarganya cukup mengerti perihal cara-cara merawat serta cukup paham perihal petanda ancaman yang akan timbul dari tifoid.
d. Rumah tangga pasien mempunyai atau sanggup melakukan sistem pembuangan ekskreta (feses, urin, muntahan) yang mememenuhi syarat kesehatan.
e. Dokter bertanggung jawab penuh terhadap pengobatan dan perawatan pasien.
f. Dokter sanggup memprediksi pasien tidak akan menghadapi bahayabahaya yang serius.
g. Dokter sanggup mengunjungi pasien setiap hari. Bila tidak bisa harus diwakili oleh seorang perawat yang bisa merawat demam tifoid.
h. Dokter mempunyai hubungan komunikasi yang lancar dengan keluarga pasien.


Konseling dan Edukasi
Edukasi pasien perihal tata cara:
a. Pengobatan dan perawatan serta aspek lain dari demam tifoid yang harus diketahui pasien dan keluarganya.
b. Diet, pentahapan mobilisasi, dan konsumsi obat sebaiknya diperhatikan atau dilihat pribadi oleh dokter, dan keluarga pasien telah memahami serta bisa melaksanakan.
c. Tanda-tanda kegawatan harus diberitahu kepada pasien dan keluarga supaya bisa segera dibawa ke rumah sakit terdekat untuk perawatan.


Pendekatan Community Oriented
Melakukan konseling atau edukasi pada masyarakat perihal aspek pencegahan dan pengendalian demam tifoid, melalui:
a. Perbaikan sanitasi lingkungan
b. Peningkatan higiene makanan dan minuman
c. Peningkatan higiene perorangan
d. Pencegahan dengan imunisasi


Kriteria Rujukan
a. Telah menerima terapi selama 5 hari namun belum tampak perbaikan.
b. Demam tifoid dengan tanda-tanda kedaruratan.
c. Demam tifoid dengan tanda-tanda komplikasi dan kemudahan tidak mencukupi.

Prognosis
Prognosis ialah bonam, namun ad sanationam dubia ad bonam, karena penyakit sanggup terjadi berulang.
Gobekasi Demam Tifoid Gobekasi Demam Tifoid
REDAKSI :
Judul Article : Gobekasi Demam Tifoid
Link Judul : Gobekasi Demam Tifoid
Gobekasi Demam Tifoid https://www.gobekasi.co.id/2018/11/gobekasi-demam-tifoid.html Silakan Baca Artikel Selanjutnya Di Bawah Ini