Gobekasi Diagnosis, Tatalaksana Dan Terapi Efusi Pleura Masif Di Igd
Cari Berita

Advertisement

Gobekasi Diagnosis, Tatalaksana Dan Terapi Efusi Pleura Masif Di Igd

Ndaru Im
Tuesday, November 20, 2018

Simak diagnosis, tatalaksana dan terapi efusi pleura masif di IGD berikut ini. – Peningkatan angka insiden kanker (keganasan) di masyarakat perlu diberi perhatian oleh dokter, terutama dokter yang bertugas di Instalasi gawat darurat (IGD). Salah satu keluhan yang banyak membawa pasien ke IGD ialah efusi pleura yang masif.

Efusi pleura yang masif merupakan salah satu komplikasi yang sering dan biasa ditemukan pada pasien keganasan dan terutama disebabkan oleh kanker paru dan kanker payudara. Efusi pleura yang masif mempunyai dua sifat yang khas, yaitu cairan pleural lazimnya berwarna merah (hemoragik) dan pada umumnya cepat diproduksi kembali sesudah diaspirasi oleh dokter.

Jumlah cairan pleura pada pasien dengan efusi pleura masif ini biasanya lebih dari 500 ml, sehingga menyebabkan cairan ini mendorong mediastinum ke arah sisi yang sehat sehingga menyebabkan beberapa gejala. Foto toraks X-Ray akan sangat membantu dalam mengidentifikasi kondisi ini.

Cairan pelumas yang ada di dalam rongga pleura individu normal diproduksi oleh suatu anyaman pembuluh kapiller permukaan pleura parietal dan diabsopsi kapiler dan pembuluh getah bening pleura vicerasalis dengan kecepatan yang seimbang dengan kecepatan proses pembentukannya.

Oleh lantaran itu gangguan apapun yang terkait dengan proses absorpsi dan disertai bertambahnya kecepatan proses pembentukan cairan ini maka akan menyebabkan penimbunan cairan secara patologik di dalam rongga pleura.

Beberapa faktor yang berperan dalam patogenesis efusi pleura masif:

  1. infiltrasi sel-sel oleh tumor yang secara eksklusif terjadi pada pleura,
  2. penyumbatan pembuluh getah bening atau vena,
  3. penyumbatan bronkus disertai dengan atelektasis,
  4. Pneumonia pasca-hambatan yang disertai dengan efusi parapneumonik, dan
  5. Hipoproteinema

Diagnosis Klinis dari Efusi Pleura Masif

 tatalaksana dan terapi efusi pleura masif di IGD berikut ini gobekasi Diagnosis, Tatalaksana dan Terapi Efusi Pleura Masif di IGD
algoritma tatalaksana efusi pleura

Diagnosis efusi pleura yang bersifat masif ini ditegakkan dengan anamnesis, investigasi fisik, dan investigasi penunjang (X-Ray). Konfirmasi diagnosis dilakukan dengan melaksanakan aspirasi cairan pleura ini, yang sekaligus sanggup dilakukan untuk tujuan terapi dan pengobatan.

Anamnesis Pada Efusi Pleura Masif


Keluhan sakit dada dan sesak ialah dua kondisi yang terbanyak disampaikan oleh pasien. Rasa sakit menciptakan pasien membatasi gerakan rongga dada dengan bernapas dangkal atau tidur miring ke arah sisi yang sakit.

Gejala sesak napas sanggup ringan atau berat, tergantung pada proses perbentukan efusi, jumlah cairan efusi pleura, dan juga kelainan yang mendasari terjadinya kondisi efusi. Selain itu, sanggup ditemukan keluhan yang terkait dengan masifnya efusi pleura. Kira-kira 25% pasien efusi pleura masif tidak mengalami keluhan pada ketika diagnosis ditegakkan.

Pemeriksaan Fisik Pada Efusi Pleura Masif


Pada investigasi fisik, pasien sanggup terlihat sesak nafas dengan pernafasan yang dangkal, hemitoraks yang sakit lebih cenderung, ruang sela iga yang melebar, mendatar dan tertinggal pada ketika pernafasan.

Fremitus bunyi lemah hingga menghilang, dan pada perkusi akan terdengar bunyi redup hingga pekak di tempat tempat efusi (tergantung jumlah cairan). Setidaknya paling sedikit harus ada cairan sekitar 500 ml untuk menyebabkan bunyi yang pekak ketika perkusi.

Selain itu, sanggup ditemukan tanda-tanda jantung dan mediastinum “terdorong” ke arah sisi yang sehat. Pada auskultasi, bunyi pernafasan menjadi lemah hingga menghilang pada tempat efusi pleura.

Foto Thorax X-Ray Pada Efusi Pleura Masif


Pemeriksaan radiologik mempunyai nilai yang tinggi dalam menegakkan diagnosis efusi pleura besar-besaran, meskipun tidak bermanfaat dalam memilih faktor penyebabnya. Pada foto toraks tampak perselubungan homogen dengan batas atas yang karam atau rata, dan sudut kostofrenikus yang terlihat tumpul.

Cairan dengan jumlah yang hanya sedikit akan menawarkan citra berupa penumpulan sudut kostofrenikus. Cair sebesar kurang dari 100 ml tidak akan terlihat pada gambar toraks yang dibentuk dengan teknik biasa. Bayangan seragam gres sanggup terlihat terang ketika efusi lebih dari 300 ml. Bila pencarian tidak terlihat pada gambar postero-anterior (PA), maka disarankan dibentuk foto pada posisi lateral dekubitus.

Pungsi Pleura Pada Efusi Pleura Masif


Selain bermanfaat untuk konfirmasi diagnosis, aspirasi cairan pleura juga sanggup dikerjakan dengan tujuan terapetik. Aspirasi cairan (torakonsentesis) sanggup dilakukan sebagai berikut:

Pasien dalam posisi duduk dengan kedua lengan merangkul atau diletakkan di atas bantal; kalau mustahil duduk, aspirasi sanggup dilakukan pasien dalam posisi tidur terlentang.

Lokasi penusukan jarum sanggup didasarkan pada hasil foto toraks pasien, atau di tempat sedikit medial dari ujung skapula, atau pada linea aksilaris media di bawah batas bunyi terdengarnya bunyi sonor dan redup.

Setelah dilakukan anestasi secara memadai, dilakukan penusukan dengan jarum berukuran besar, contohnya jarum nomor 16.

Kegagalan aspirasi biasanya disebabkan lantaran penusukan jarum terlampau rendah sehingga sanggup mengenai diafragma atau terlalu dalam sehingga jaringan paru, atau jarum tidak mencapai rongga pleura oleh lantaran jaringan subkutis atau pleura parietal yang tebal.

Pemeriksaan Makroskopik dan Sistologik dilakukan Pada Cairan Efusi Pleura Masif yang Diperoleh


Interpretasi Hasil Analisis Pada Cairan Efusi Pleura Masif


Cairan efusi pleura yang masif pada umumnya merupakan suatu eksudat serta lazim bersifat hemoragik. Kadar protein pada umumnya tinggi (lebih dari 3 g / dL), demikian juga harga LDH (diatas 200 UI).

Nilai gula kurang dari 60 mg / dl, jumlah eosinofil meningkat, jumlah limfosit pada hitung jenis leukosit sebesar 50% atau lebih, dan jumlah eritosit lebih dari 100.000 / ml.

Sitologi Cairan yang Didapat Efusi Pleura Masif


Pemeriksaan Sitologi cairan pleural perlu dipertimbangkan semenjak pasien berada di IGD, lantaran mempunyai nilai diagnosis etiologik yang tinggi. investigasi sitoplasma sanggup menawarkan akurasi diagnosis etiologi hingga 60% pada investigasi pertama dan 80 hingga 90% pada investigasi kedua. Hasil aspirasi cairan pleura harus disimpan untuk diperiksa di oleh dokter patologi (Sp.PA). Namun, yang perlu diingat, hasil investigasi sitologi yang negatif tidak sanggup menyingkirkan diagnosis efusi pleura besar-besaran oleh lantaran keganasan.

Tatalaksana dan Terapi Pada Efusi Pleura Masif : Fokus Pada Torakosintesis Terapeutik


Efusi pleura besar-besaran yang disebabkan kanker pada umumnya merupakan stadium lanjut dari suatu keganasan dan perawatan terhadap keganasan pada stadium ini biasanya tidak menawarkan hasil yang baik.

Oleh lantaran itu, penanganan efusi pleura oleh lantaran kanker atau keganasan hampir selalu bersifat paliatif yang bertujuan untuk meringankan gejala-gejala dan mencegah pembentukan cairan pleura. Pengobatan terhadap kanker primer sanggup diberikan apabila diketahui lokasi serta tersedia terapi dan pengobatan untuk tumor tersebut.

Penanganan paliatif pada efusi pleura tanggapan keganasan sanggup berupa aspirasi cairan, pleurodesis, dan ataupun pembedahan. Tujuan tindakan ini ialah untuk mengurangi serta mencegah penimbunan kembali cairan pleural, menghindari komplikasi tanggapan efusi pleura, dan mengembalikan fungsi normal pleura dan paru-paru.

Dalam artikel ini hanya akan dibahas mekanisme terapi aspirasi cairan. Sejawat sanggup membaca lebih lanjut mekanisme pleurodesis dan operasi sebagai terapi efusi pleura masif di sumber yang lain.

Aspirasi cairan pleural terapetik


cairan pleural sanggup dikeluarkan dengan jalan aspirasi secara berulang atau dengan pemasangan selang dada yang dihubungkan dengan Water Seal Drainage (WSD).

Aspirasi cairan (torakosentesis) berulang ialah tindakan terapi yang tidak berbeda dengan torakosintesis untuk tujuan diagnostik. Cairan yang dikeluarkan pada setiap pengambilan sebaiknya tidak lebih dari 1500 ml untuk mencegah terjadinya edema paru tanggapan pengembangan paru-paru secara mendadak.

Selain itu, produksi cairan dalam jumlah besar secara tiba-tiba biasa menyebabkan reflek vagal, berupa batuk-batuk, bradikardi, aritmia yang berat, dan hipotensi. Jika jumlah cairan cukup banyak, sebaiknya dipasang selang toraks biar dihubungkan dengan WSD, sehingga cairan sanggup dikeluarkan secara lambat tapi kondusif dan sempurna.

WSD harus diawasi setiap hari dan bila sudah tidak terlihat undulasi pada selang, maka cairan mungkin sudah habis dan jairngan paru telah mengembang. Untuk memastikan hal ini, sanggup dilakukan pembuatan foto toraks.

Selang toraks sanggup dicabut kalau produksi cairan dalam satu hari kurang dari 100 ml dan jaringan paru telah mengembang, yang ditandai oleh terdengarnya kembali bunyi napas dan terlihat pengembang paru pada foto toraks. Selang dicabut pada waktu ekspirasi maksimum.

efusi pleura pada keganasan merupakan komplikasi yang banyak ditemukan pada keganasan pleura primer maupun metastitik, dan lazimnya terjadi pada stadium yang lanjut dari suatu keganasan. Tujuan pengobatan efusi pleura ini hampir selalu bersifat paliatif, dengan cara produksi cairan, pleurodesis dan pembedahan. Pleurodesis merupakan terapi pilihan untuk efusi tanggapan kekerasan.



Referensi: EIMED Kegawatdaruratan PAPDI BIRU
Gobekasi Diagnosis, Tatalaksana Dan Terapi Efusi Pleura Masif Di Igd Gobekasi Diagnosis, Tatalaksana Dan Terapi Efusi Pleura Masif Di Igd
REDAKSI :
Judul Article : Gobekasi Diagnosis, Tatalaksana Dan Terapi Efusi Pleura Masif Di Igd
Link Judul : Gobekasi Diagnosis, Tatalaksana Dan Terapi Efusi Pleura Masif Di Igd
Gobekasi Diagnosis, Tatalaksana Dan Terapi Efusi Pleura Masif Di Igd https://www.gobekasi.co.id/2018/11/gobekasi-diagnosis-tatalaksana-dan.html Silakan Baca Artikel Selanjutnya Di Bawah Ini