Gobekasi Gagal Jantung Akut Dan Kronik
Cari Berita

Advertisement

Gobekasi Gagal Jantung Akut Dan Kronik

Ndaru Im
Tuesday, November 20, 2018

Gagal Jantung Akut dan Kronik
No. ICPC II : K77 Heart failure
No. ICD X : I50.9

Tingkat Kemampuan:
a. Gagal jantung akut 3B
b. Gagal jantung kronik 3A

Masalah Kesehatan
Gagal jantung (akut dan kronik) merupakan persoalan kesehatan yang mengakibatkan penurunan kualitas hidup, tingginya rehospitalisasi karena kekambuhan yang tinggi dan peningkatan angkan kematian.
Angka Morbiditas Penyakit:
prevalensi kasus gagal jantung di komunitas meningkat seiring dengan meningkatnya usia: 0,7 % (40-45 tahun), 1,3 % (55-64 tahun), dan 8,4 % (75 tahun ke atas). Lebih dari 40% pasien kasus gagal jantung memiliki ejeksi fraksi lebih dari 50%. Pada usia 40 tahun, risiko terjadinya gagal jantung sekitar 21% untuk lelaki dan 20.3 % pada perempuan.

Anamnesis
Keluhan
a. Sesak pada ketika beraktifitas (dyspneu d’effort)
b. Gangguan napas pada perubahan posisi (ortopneu)
c. Sesak napas malam hari (paroxysmal nocturnal dyspneu)


Keluhan tambahan: lemas, mual, muntah dan gangguan mental pada orangtua

Faktor Risiko
  • Hipertensi
  • Dislipidemia
  • Obesitas
  • Merokok
  • Diabetes melitus
  • Riwayat gangguan jantung sebelumnya
  • Riwayat infark miokard

Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Fisik
  • Peningkatan tekanan vena jugular
  • Frekuensi pernapasan meningkat
  • Frekuensi nadi dan regularitasnya
  • Tekanan darah
  • Kardiomegali
  • Gangguan suara jantung (gallop)
  • Ronkhi pada investigasi paru
  • Hepatomegali
  • Asites
  • Edema perifer

Pemeriksaan penunjang esential
a. Rontgen thoraks (kardiomegali, citra edema paru/alveolar edema/butterfly appearance)

 merupakan persoalan kesehatan yang mengakibatkan penurunan kualitas hidup gobekasi Gagal Jantung Akut dan Kronik
butterfly appearance
www.acnnjournals.org

b. EKG (hipertrofi ventrikel kiri, atrial fibrilasi, perubahan gelombang T, dan citra abnormal lainnya.
c. Darah perifer lengkap

Diagnosis
Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan menurut kriteria Framingham: minimal 1 kriteria mayor dan 2 kriteria minor.
Kriteria Mayor:
a. Sesak napas tiba-tiba pada malam hari (paroxysmal nocturnal dyspneu)
b. Distensi vena-vena leher
c. Peningkatan tekanan vena jugularis
d. Ronkhi
e. Terdapat kardiomegali
f. Edema paru akut
g. Gallop (S3)
h. Refluks hepatojugular positif

Kriteria Minor:
a. Edema ekstremitas
b. Batuk malam
c. dyspneu d’effort (sesak ketika beraktifitas)
d. Hepatomegali
e. Efusi pleura
f. penurunan kapasitas vital paru sepertiga dari normal
g. takikardi >120 kali per menit

Diagnosis Banding
a. Penyakit paru: obstruktif kronik (PPOK), asma, pneumonia, abses paru berat (ARDS), emboli paru
b. Penyakit Ginjal: Gagal ginjal kronik, sindrom nefrotik
c. Penyakit Hati: sirosis hepatik

Komplikasi
a. Syok Kardiogenik
b. Gangguan keseimbangan elektrolit

Penatalaksanaan Komprehensif
Penatalaksanaan
A. Modifikasi gaya hidup:
1. Pembatasan asupan cairan maksimal 1,5 liter (ringan), maksimal 1 liter (berat)
2. Pembatasan asupan garam maksimal 2 gram/hari (ringan), 1 maksimal gram (berat)
3. Berhenti merokok dan konsumsi alkohol

B. Aktivitas fisik:
1. Pada kondisi akut berat: tirah baring
2. Pada kondisi sedang atau ringan: batasi beban kerja hingga 70% sd 80% dari denyut nadi maksimal (220/ umur)

C. Penatalaksanaan farmakologi:
Pada gagal jantung akut:
1. Terapi oksigen 2-4 ltr/ mnt
2. Pemasangan iv line untuk saluran dilanjutkan dengan pemberian furosemid injeksi 20 s/d 40 mg bolus.
3. Cari pemicu gagal jantung akut.
4. Segera rujuk.

Pada gagal jantung kronik:
1. Diuretik: diutamakan Lup diuretik (furosemid) jikalau perlu dapat dikombinasikan Thiazid (HCT), jikalau dalam 24 jam tidak ada respon rujuk ke Layanan Sekunder.
2. ACE Inhibitor (ACE-I) atau Angiotensine II receptor blocker (ARB) mulai dari takaran terkecil dan titrasi takaran hingga tercapai takaran yang efektif dalam beberapa minggu. Bila pengobatan sudah mencapai dosis maksimal dan sasaran tidak tercapai, dirujuk.
3. Beta Blocker (BB): mulai dari takaran terkecil dan titrasi takaran sampai tercapai takaran yang efektif dalam beberapa minggu. Bila pengobatan sudah mencapai takaran maksimal dan sasaran tidak tercapai, dirujuk. Digoxin diberikan jikalau ditemukan fibrilasi atrial untuk menjaga denyut nadi tidak terlalu cepat.

Konseling dan Edukasi
a. Edukasi wacana penyebab dan faktor risiko penyakit gagal jantung kronik. Penyebab gagal jantung kronik yang paling sering yakni tidak terkontrolnya tekanan darah, kadar lemak atau kadar gula darah.
b. Pasien dan keluarga perlu diberitahu gejala kegawatan kardiovaskular dan pentingnya untuk kontrol kembali setelah pengobatan di rumah sakit.
c. Patuh dalam pengobatan yang telah direncanakan.
d. Menjaga lingkungan sekitar aman untuk pasien beraktivitas dan berinteraksi.
e. Melakukan konferensi keluarga untuk mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat penatalaksanaan pasien, serta menyepakati bersama tugas keluarga pada persoalan kesehatan pasien.

Kriteria Rujukan
Pasien dengan gagal jantung harus dirujuk ke kemudahan peayanan kesehatan sekunder yang mempunyai dokter seorang andal jantung atau Sp. Penyakit Dalam untuk perawatan maupun investigasi lanjutan menyerupai ekokardiografi. Pada kondisi akut, dimana kondisi klinis mengalami perburukan dalam waktu
cepat harus segera dirujuk Layanan Sekunder (Sp. Jantung/Sp. Penyakit Dalam) untuk dilakukan penanganan lebih lanjut.

Prognosis
Tergantung dari berat ringannya penyakit.

Gobekasi Gagal Jantung Akut Dan Kronik Gobekasi Gagal Jantung Akut Dan Kronik
REDAKSI :
Judul Article : Gobekasi Gagal Jantung Akut Dan Kronik
Link Judul : Gobekasi Gagal Jantung Akut Dan Kronik
Gobekasi Gagal Jantung Akut Dan Kronik https://www.gobekasi.co.id/2018/11/gobekasi-gagal-jantung-akut-dan-kronik.html Silakan Baca Artikel Selanjutnya Di Bawah Ini