Gobekasi Gigitan Ular Berbisa
Cari Berita

Advertisement

Gobekasi Gigitan Ular Berbisa

Ndaru Im
Tuesday, November 20, 2018

Artikel ilmiah kali ini akan membahas perihal gigitan ular berbisa. Bagi Anda yang lagi cari-cari materi buat makalah, laporan pendahuluan dan kasus, askep atau asuhan keperawatan perihal gigitan ular berbisa, silahkan simak artikel ini baik-baik!

Definisi Gigitan Ular Berbisa

Luka gigitan yakni cedera yang disebabkan oleh ekspresi dan gigi binatang atau manusia. Hewan mungkin menggigit untuk mempertahankan dirinya, dan pada kesempatan khusus untuk mencari makanan. Beberapa luka gigitan perlu ditutup dengan jahitan, sedang beberapa lainnya cukup dibiarkan saja dan sembuh dengan sendirinya.
 Artikel ilmiah kali ini akan membahas perihal  gobekasi Gigitan Ular Berbisa
gambar ular
Luka gigitan penting untuk diperhatikan dalam dunia kedokteran. Luka ini sanggup mengakibatkan kerusakan jaringan secara umum, perdarahan serius kalau pembuluh darah besar terluka, infeksi oleh basil atau patogen lainnya, dan sanggup mengandung racun. Salah satu luka gigitan yakni luka gigitan. Spesies ular sanggup dibedakan atas ular berbisa dan ular tidak berbisa.

Jenis Ular dan Cara Mengidentifikasinya

Ular berbisa kebanyakan termasuk dalam famili Colubridae, tetapi pada umumnya sanggup yang dihasilkannya bersifat lemah. Contoh ular dalam famili ini yakni ular sapi (Zaocys carinatus), ular tali (Dendrelaphis pictus), ular tikus atau ular jali (Ptyas korros), dan ular serasah (Sibynophis geminatus).

Ular berbisa besar lengan berkuasa yang terdapat di Indonesia biasanya masuk dalam famili Elapidae, Hydropiidae, atau Viperidae. Elapidae mempunyai taring pendek dan tegak permanen. Contoh anggota famili ini yakni ular cabe (Maticora intestinalis), ular weling (Bungarus candidus), ular sendok (Naja sumatrana), dan ular king kobra (Ophiophagus hannah).

Viperidae mempunyai taring panjang yang secara normal sanggup dilipat ke potongan rahang atas, tetapi sanggup ditegakkan kalau sedang menyerang mangsanya. Ada dua subfamili pada Viperidae, yaitu Viperinae dan Crotalinae. Contoh Viperidae yakni ular bandotan (Vipera russelli), ular tanah (Calloselasma rhodostoma), dan ular bangkai bahari (Trimeresurus albolabris).

Berikut perbedaan antara ular berbisa dan ular tidak berbisa

Berikut ini klarifikasi perbedaan ular berbisa dan tidak berbisa. Hal ini ditinjau dari bentuk kepala ular, jenis gigi taring ular, ciri ciri bekas gigitan ular berbisa, dan warna ular.
 Artikel ilmiah kali ini akan membahas perihal  gobekasi Gigitan Ular Berbisa
perbedaan ular berbisa dan ular tidak berbisa

Bisa Ular dan Patofisiologi Gigitan Ular Berbisa

Bisa yakni suatu zat atau substansi yang berkhasiat untuk melumpuhkan mangsa dan juga berfungsi pada prosedur sistem pertahanan diri. Bisa tersebut merupakan ludah yang termodifikasi, yang dihasilkan oleh suatu kelenjar khusus. Bisa ular mengandung lebih dari 20 unsur penyusun, sebagian besar yakni protein, termasuk enzim dan racun polipeptida. 

Beberapa unsur sanggup ular yang mempunyai dampak klinis, yaitu:
  • Enzim prokoagulan (viperidae) yang menstimulasi proses pembekuan darah namun sanggup pula mengakibatkan darah tidak sanggup berkoagulasi.
  • Haemorrhagins (zinc metalloproteinase) yang merusak endotel yang mencakup pembuluh darah dan mengakibatkan perdarahan sistemik spontan.
  • Racun sitolitik atau nekrotik berupa hidrolase (enzim proteolitik dan fosfolipase A) yang meningkatkan permeabilitas membran sel dan mengakibatkan pembengkakan setempat serta maut jaringan.
  • Phospholipase A2 haemolitik and myolitik dimana berupa enzim yang sanggup menghancurkan membran sel, endotel, otot lurik, saraf serta sel darah merah.
  • Phospolipase A2 Neurotoxin pre-synaptik (elapidae dan beberapa viperidae) – merupakan phospholipases A2 yang merusak ujung syaraf, pada awalnya melepaskan transmiter asetilkolin kemudian meningkatkan pelepasannya.
  • Post-synaptic neurotoxins (elapidae) – polipeptida ini bersaing dengan asetilkolin untuk menerima reseptor di neuromuscular junction dan mengakibatkan paralisis yang menyerupai  seperti paralisis kuraonium2

Diagnosis Klinis Pada Gigitan Ular Berbisa

Anamnesis :
Anamnesis yang sempurna seputar gigitan ular serta progresifitas tanda-tanda dan tanda baik lokal dan sistemik merupakan hal yang sangat penting. Dokter harus menggali secara cepat bukti bahwa pasien telah digigit ular, jenis ular, lokasi gigitan ular,  waktu digigit ular, kondisi pasien ketika digigit, dan tanda envenomasi lokal (tanda dan tanda-tanda gigitan ular berbisa) dan sistemiknya. 

Pemeriksaan Fisik:
Tanda dan Gejala Lokal pada tempat gigitan:
  • tanda gigitan taring (fang marks),
  • nyeri lokal,
  • perdarahan lokal,
  • kemerahan,
  • limfangitis,
  • pembesaran kelenjar limfe,
  • inflamasi (bengkak, merah, panas),
  • melepuh,
  • infeksi lokal, terbentuk abses, dan
  • nekrosis

Tanda dan tanda-tanda sistemik:
a. umum
tanda dan tanda-tanda umum berupa mual, muntah, nyeri perut, lemah, lemas, dan mengantuk.

b. vardiovaskuler (viperidae)
gangguan penglihatan, syok, hipotensi, aritmia jantung, edema paru, dan edema konjungtiva. 

c. perdarahan dan gangguan pembekuan darah (viperidae)
perdarahan yang berasal dari fang marks yang terus-menerus dan dari luka yang telah menyembuh sebagian, perdarahan sistemik impulsif dari gusi, epistaksis, perdarahan intrakranial, hemoptisis, perdarahan perrektal (melena), hematuria, perdarahan pervaginam, dan lain-lain.

d. neurologis (elapidae, Russel viper)
gangguan berupa mengantuk, parestesia, paralisis otot wajah dan otot lainnya yang dipersarafi nervus kranialis, bunyi sengau atau afonia, regurgitasi cairan melalui hidung, kesulitan untuk menelan sekret, paralisis otot pernafasan dan flaksid generalisata. 

e. destruksi otot skeletal (ular laut, Bungarus niger, dan B. candidus)
tanda-tanda berupa nyeri seluruh tubuh, kaku dan nyeri pada otot, hingga henti jantung. Dapat ditemukan myoglobinuria dan hiperkalemia pada hasil laboratoriumnya.

f. sistem perkemihan
tanda-tanda dan tanda berupa nyeri punggung bawah, hematuria, hemoglobinuria, myoglobinuria, dan oligouria/ anuria.

sumber:
SMF Bedah RSUD DR. R.M. Djoelham Binjai. 2000. Gigitan Hewan. Available from : www.scribd.com/doc/81272637/Gigitan-Hewan
WHO. 2005. Guidelines for The Clinical Management of Snake Bite in The South East Asia Region.
Sentra Informasi Keracunan Nasional Badan POM, 2012. Penatalaksanaan Keracunan Akibat Gigitan Ular Berbisa. Available from : www.pom.id (diakses pada Maret 2014)
www.google.com

Simak kasus-kasus gawat darurat kesehatan lainnya di Kegawatdaruratan.
Gobekasi Gigitan Ular Berbisa Gobekasi Gigitan Ular Berbisa
REDAKSI :
Judul Article : Gobekasi Gigitan Ular Berbisa
Link Judul : Gobekasi Gigitan Ular Berbisa
Gobekasi Gigitan Ular Berbisa https://www.gobekasi.co.id/2018/11/gobekasi-gigitan-ular-berbisa.html Silakan Baca Artikel Selanjutnya Di Bawah Ini