Gobekasi Hipermetropia
Cari Berita

Advertisement

Gobekasi Hipermetropia

Ndaru Im
Tuesday, November 20, 2018

Hipermetropia :
No. ICPC II : F91 Refractive error
No. ICD X : H52.0 Hypermetropia
Tingkat Kemampuan: Hipermetropia ringan 4A

Masalah Kesehatan
Hipermetropia merupakan keadaan gangguan kekuatan pembiasan mata dimana sinar sejajar jauh tidak cukup berpengaruh dibiaskan sehingga titik fokusnya terletak di belakang retina. Kelainan ini menyebar merata di banyak sekali geografis, etnis, usia dan jenis kelamin. Hipermetrop pada belum dewasa tidak perlu dikoreksi kecuali bila disertai dengan gangguan motor sensorik ataupun keluhan astenopia.

Anamnesis
Keluhan
Pasien tiba dengan keluhan melihat erat dan jauh kabur.
a. Gejala penglihatan dekat, kabur lebih awal, terutama bila lelah dan penerangan kurang.
b. Sakit kepala terutama tempat frontal dan makin berpengaruh pada penggunaan mata yang usang dan membaca dekat. Penglihatan tidak enak (asthenopia akomodatif = eye strain) terutama bila melihat pada jarak yang tetap dan dibutuhkan penglihatan terperinci pada jangka waktu yang lama, contohnya menonton TV dan lain-lain.
c. Mata sensitif terhadap sinar.
d. Spasme fasilitas yang sanggup mengakibatkan pseudomiopia. Mata juling dapat terjadi sebab fasilitas yang berlebihan akan diikuti konvergensi yang berlebihan pula.

Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana
Pemeriksaan Fisik

a. Pemeriksaan refraksi subjektif
  1. Penderita duduk menghadap kartu snellen pada jarak 6 meter.
  2. Pada mata dipasang bingkai percobaan. Satu mata ditutup, biasanya mata kiri ditutup terlebih dahulu untuk menyidik mata kanan.
  3. Penderita disuruh membaca kartu snellen mulai aksara terbesar (teratas) dan diteruskan pada baris bawahnya hingga pada huruf terkecil yang masih sanggup dibaca. Lensa faktual terkecil ditambah pada mata yang diperiksa dan bila tampak lebih terperinci oleh penderita lensa faktual tersebut ditambah kekuatannya perlahan–lahan dan disuruh membaca huruf-huruf pada baris yang lebih bawah. Ditambah kekuatan lensa hingga terbaca huruf-huruf pada baris 6/6. Ditambah lensa faktual +0.25 lagi dan ditanyakan apakah masih dapat melihat huruf-huruf di atas.
  4. Mata yang lain diperiksa dengan cara yang sama.
  5. Penilaian: bila dengan S +2.00 tajam penglihatan 6/6, kemudian dengan S +2.25 tajam penglihatan 6/6 sedang dengan S +2.50 tajam penglihatan 6/6-2 maka pada keadaan ini derajat hipermetropia yang diperiksa S +2.25 dan kacamata dengan ukuran ini diberikan pada penderita. Pada penderita hipermetropia selama diberikan lensa sferis positif terbesar yang memperlihatkan tajam penglihatan terbaik.

b. Pada pasien dengan daya fasilitas yang masih sangat berpengaruh atau pada anak-anak, sebaiknya investigasi dilakukan dengan pemberian siklopegik atau melumpuhkan otot akomodasi.

Pemeriksaan Penunjang
Tidak diperlukan

Diagnosis
Diagnosis Klinis
Penegakan diagnosis dengan anamnesis dan investigasi refraksi subjektif.

Komplikasi
a. Esotropia atau juling ke dalam terjadi akhir pasien selamanya melakukan akomodasi.
b. Glaukoma sekunder terjadi akhir hipertrofi otot siliar pada tubuh siliar yang akan mempersempit sudut bilik mata.
c. Ambliopia

Penatalaksanaan Komprehensif
Penatalaksanaan
Koreksi dengan lensa sferis faktual terkuat yang menghasilkan tajam penglihatan terbaik.

Konseling dan Edukasi
Memberitahu keluarga jikalau penyakit ini harus dikoreksi dengan dukungan kaca mata. Karena jikalau tidak, maka mata akan berakomodasi terus menerus dan menyebabkan komplikasi.

Prognosis
Prognosis pada umumnya ad bonam jikalau segera dikoreksi dengan lensa sferis positif.

Gobekasi Hipermetropia Gobekasi Hipermetropia
REDAKSI :
Judul Article : Gobekasi Hipermetropia
Link Judul : Gobekasi Hipermetropia
Gobekasi Hipermetropia https://www.gobekasi.co.id/2018/11/gobekasi-hipermetropia.html Silakan Baca Artikel Selanjutnya Di Bawah Ini