Gobekasi Otitis Media Akut
Cari Berita

Advertisement

Gobekasi Otitis Media Akut

Ndaru Im
Tuesday, November 20, 2018

Otitis Media Akut
No. ICPC II : H71 Acute otitis media/myringitis
No. ICD X : H66.0 Acute suppurative otitis media
Tingkat Kemampuan: 4A

Masalah Kesehatan
Otitis media akut (OMA) yaitu peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid yang terjadi dalam waktu kurang dari 3 minggu. Prevalensi bencana OMA banyak diderita oleh belum dewasa maupun bayi dibandingkan pada orang remaja renta maupun remaja muda. Pada anak-anak makin sering menderita infeksi susukan napas atas, maka makin besar pula kemungkinan terjadinya OMA disamping oleh lantaran sistem imunitas anak yang belum berkembang secara sempurna. Pada bayi terjadinya OMA dipermudah oleh lantaran tuba eustachius pendek, lebar, dan letak agak horizontal.

Anamnesis
Keluhan
Pasien tiba dengan keluhan yang bergantung pada stadium OMA yang terjadi. Pada anak, keluhan utama yaitu rasa nyeri di dalam indera pendengaran dan demam serta ada riwayat batuk pilek sebelumnya. Anak juga gelisah, sulit tidur, tiba-tiba menjerit waktu tidur, bila demam tinggi sering diikuti diare dan kejang-kejang. Kadang-kadang anak memegang indera pendengaran yang sakit. Pada stadium supurasi pasien tampak sangat sakit, dan demam, serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Bila terjadi ruptur membran timpani, maka sekret mengalir ke liang telinga, suhu badan turun, dan anak tertidur tenang. Pada anak yang lebih besar atau dewasa, selain rasa nyeri terdapat pula gangguan pendengaran dan rasa penuh dalam telinga.


Faktor Risiko
a. Bayi dan anak
b. Infeksi susukan napas berulang
c. Bayi yang tidak mendapat ASI Eksklusif

Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Fisik
a. Dapat ditemukan demam
b. Pemeriksaan dengan otoskopi untuk melihat membran timpani:
  1. Pada stadium oklusi tuba Eustachius terdapat citra retraksi membran timpani, warna membran timpani suram dengan reflex cahaya tidak terlihat.
  2. Pada stadium hiperemis membran timpani tampak hiperemis serta edema.
  3. Pada stadium supurasi membran timpani menonjol ke arah luar (bulging) berwarna kekuningan.
  4. Pada stadium perforasi terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari indera pendengaran tengah ke liang indera pendengaran luar.
  5. Pada stadium resolusi bila membran timpani tetap utuh, maka perlahan-lahan akan normal kembali. Bila telah terjadi perforasi, maka sekret akan berkurang dan mengering.

c. Pada investigasi penala yang dilakukan pada anak yang lebih besar dapat ditemukan tuli konduktif

Pemeriksaan Penunjang
tidak dibutuhkan

Diagnosis
Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan menurut anamnesis dan investigasi fisik.
Otitis Media Akut:
a. Stadium oklusi tuba Eustachius
Adanya citra retraksi membran timpani akhir terjadinya tekanan negatif di dalam indera pendengaran tengah, lantaran adanya perembesan udara. Membran timpani terlihat suram dengan refleks cahaya menghilang. Efusi mungkin telah terjadi, tapi tidak sanggup dideteksi. Stadium ini sulit dibedakan dengan otitis media serosa yang disebabkan oleh virus atau alergi.

b. Stadium Hiperemis
Tampak pembuluh darah melebar di membran timpani sehingga membran timpani tampak hiperemis serta edema. Sekret yang terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar dilihat.

c. Stadium Supurasi
Edema yang andal pada mukosa indera pendengaran tengah dan hancurnya sel epitel superfisial, serta terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani yang mengakibatkan membran timpani menonjol (bulging) ke arah telinga luar. Pasien tampak sangat sakit, dan demam, serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Bila tidak dilakukan insisi (miringotomi) pada stadium ini, kemungkinan besar membran timpani akan ruptur dan keluar infeksi ke liang indera pendengaran luar. Dan bila ruptur, maka lubang tempat ruptur (perforasi) kadang tidak menutup kembali terutama pada anak usia lebih dari 12 tahun atau dewasa.

d. Stadium Perforasi
Karena beberapa alasannya menyerupai terlambatnya derma antibiotika atau virulensi kuman yang tinggi, maka sanggup terjadi ruptur membran timpani dan infeksi keluar mengalir dari indera pendengaran tengah ke liang telinga luar.

e. Stadium Resolusi

Diagnosis Banding
a. Otitis media serosa akut
b. Otitis eksterna

Komplikasi
a. Otitis Media Supuratif Kronik
b. Abses sub-periosteal
c. Mastoiditis akut

Penatalaksanaan Komprehensif
Penatalaksanaan
a. Asupan gizi yang baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh
b. Pemberian farmakoterapi dengan:
1. Topikal
• Pada stadium oklusi, tujuan terapi dikhususkan untuk membuka kembali tuba eustachius. Obat tetes hidung HCl efedrin 0,5% (atau oksimetazolin 0,025%) diberikan dalam larutan fisiologik untuk anak kurang dari 12 tahun dan HCl efedrin 1% (atau oksimetazolin 0,05%) dalam larutan fisiologik untuk anak yang berumur lebih dari 12 tahun atau dewasa.

• Pada stadium perforasi, diberikan obat basuh indera pendengaran H2O2 3% selama 3-5 hari, dilanjutkan antibiotik adekuat yang tidak ototoksik menyerupai ofloxacin tetes indera pendengaran hingga 3 minggu. 2. Oral sistemik
• Dapat diberikan antihistamin bila ada tanda-tanda alergi.
• Antipiretik menyerupai paracetamol sesuai takaran anak.
• Antibiotik yang diberikan pada stadium oklusi dan hiperemis ialah
penisilin atau eritromisin, selama 10-14 hari:
a) Ampisilin : Dewasa 500 mg 4 x sehari; Anak 25 mg/KgBB 4 x sehari atau
b) Amoksisilin: Dewasa 500 mg 3 x sehari; Anak 10 mg/KgBB 3 x sehari atau c) Eritromisin : Dewasa 500 mg 4 x sehari; Anak 10 mg/KgBB 4 x sehari.
d) Jika terdapat resistensi, sanggup diberikan kombinasi dengan asam klavulanat atau sefalosporin.

• Pada stadium supurasi dilakukan miringotomi (kasus rujukan) dan derma antibiotik. Antibiotik yang diberikan:
a) Amoxyciline: Dewasa 3x500 mg/hari. Pada bayi/anak 50mg/kgBB/hari; atau
b) Erythromycine: Dewasa/ anak sama dengan dosis amoxyciline;atau
c) Cotrimoxazole: (kombinasi trimethroprim 80 mg dan ulfamethoxazole 400 mg tablet) untuk remaja 2x2 tablet, anak (trimethroprim 40 mg dan sulfamethoxazole 200 mg) suspensi 2x5 ml.
d) Jika kuman sudah resisten (infeksi berulang): kombinasi amoxyciline dan asam klavulanat, remaja 3x625 mg/hari. Pada bayi/anak, takaran diadaptasi dengan BB dan usia.

c. Miringotomi (kasus rujukan)
Indikasi miringotomi pada anak dengan OMA yaitu nyeri berat, demam, komplikasi OMA menyerupai paresis nervus fasialis, mastoiditis, labirinitis, dan infeksi sistem saraf pusat. Miringotomi merupakan terapi third-line pada pasien yang mengalami kegagalan terhadap dua kali terapi antibiotik pada satu episode OMA.

Pemeriksaan Penunjang Lanjutan
Kultur kuman pada masalah OMA berulang dan dilakukan di layanan sekunder.

Rencana Tindak Lanjut
Dilakukan investigasi membran tympani selama 2-4 ahad hingga terjadi resolusi membran tymphani (menutup kembali) kalau terjadi perforasi.

Konseling dan Edukasi
a. Memberitahu keluarga bahwa pengobatan harus adekuat biar membran timpani sanggup kembali normal.
b. Memberitahu keluarga untuk mencegah infeksi susukan napas atas (ISPA) pada bayi dan anak-anak, menangani ISPA denganpengobatan adekuat.
c. Memberitahu keluarga untuk menganjurkan derma ASI minimal enam bulan hingga dengan 2 tahun.
d. Menghindarkan pajanan terhadap lingkungan merokok dan lain-lain.

Prognosis
Prognosis quo ad fungsionam dan sanationam yaitu dubia ad bonam jika pengobatan adekuat.
Bila daya tahan badan baik atau virulensi kuman rendah, maka resolusi sanggup terjadi walaupun tanpa pengobatan.
OMA bermetamorfosis OMSK bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terus menerus atau hilang timbul. OMA sanggup mengakibatkan tanda-tanda sisa berupa otitis media serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa terjadinya perforasi.
Gobekasi Otitis Media Akut Gobekasi Otitis Media Akut
REDAKSI :
Judul Article : Gobekasi Otitis Media Akut
Link Judul : Gobekasi Otitis Media Akut
Gobekasi Otitis Media Akut https://www.gobekasi.co.id/2018/11/gobekasi-otitis-media-akut.html Silakan Baca Artikel Selanjutnya Di Bawah Ini