Gobekasi: Pengertian Akulturasi, Proses, Bentuk, Referensi & Imbas Akulturasi
Cari Berita

Advertisement

Gobekasi: Pengertian Akulturasi, Proses, Bentuk, Referensi & Imbas Akulturasi

Ndaru Im
Sunday, November 25, 2018

Pengertian akulturasi yakni bersatunya dua kebudayaan atau lebih sehingga membentuk kebudayaan gres tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Proses akulturasi berlangsung selama transmigran tersebut mengadakan suatu kontak pribadi dengan sistem sosio-budaya lokal.  

Sedangkan pengertian akulturasi berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), istilah akulturasi diartikan sebagai absorpsi yang terjadi oleh seorang individu atau sekelompok masyarakat, terhadap beberapa sifat tertentu dari kebudayaan kelompok lain sebagai akhir dari kontak ataupun dari interaksi kedua kelompok kebudayaan tersebut. 

Keseluruhan kekuatan akulturatif-komunikasi merupakan pesona dan sosial, lingkungan komunikasi dan juga merupakan potensi akulturasi yang mungkin tidak akan berjalan lurus dan juga mulus, melainkan akan bergerak maju menuju asimilasi secara hipotess merupakan asimilasi yang juga sempurna. 

Pengertian Akulturasi Menurut Para Ahli

Pentingnya akulturasi, menarik sejumlah kalangan atau para jago untuk menawarkan gagasan, pandangan dan teorinya serta konsepnya terhadap sebuah dilema dan pembahasan demi memahami apa yang disebut dengan akulturasi.

Peran para jago tersebut, salah satunya yakni terkait definisi akulturasi atau pengertian akulturasi. Macam-macam pengertian akulturasi berdasarkan para jago tersebut, telah membantu sejumlah akademisi, mahasiswa dan bentuk-bentuk ataupun pola pembelajaran bangsa Indonesia. Adapun pengertian akulturasi berdasarkan para jago yakni sebagai berikut

1. Pengertian Akulturasi Menurut Koentjaraningrat
Menurut Koentjaraningrat dalam bukunya Pengantar Ilmu Antropologi yang mengemukakan bahwa pengertian akulturasi yakni proses sosial yang timbul ketika suatu kelompok insan dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan absurd dengan sedemikian rupa, sehingga unsur dari kebudayaan absurd tersebut lambat laun diterima dan diolah kedalam kebudayaan sendiri tanpa mengakibatkan hilangnya kepribadian budaya itu sendiri.

2. Pengertian Akulturasi Menurut Soyono 
Menurut Suyono, dalam Rumondor (1995:208) bahwa pengertian akulturasi yakni pengambilan atau penerimaan satu atau beberapa unsur kebudayaan yang berasal dari pertemuan dua atau beberapa unsur kebudayaan yang saling bekerjasama atau saling bertemu. 

3. Pengertian Akulturasi Menurut Nardy
Menurut Nardy bahwa pengertian akulturasi (acculturation atau culture contact) yakni proses sosial yang timbul jikalau suatu kelompok insan dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari kebudayaan absurd dengan sedemikian rupa, sehingga unsur kebudayaan absurd lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa mengakibatkan hilangnya kepribadian kebudayaan sendiri. 

4. Pengertian Akulturasi Menurut Hasyim 
Menurut Hasyim (2011) yang ikut menawarkan definisi mengenai akulturasi, menjelaskan bahwa pengertian akulturasi yakni perpaduan antara kedua budaya yang terjadi dalam kehidupan harmonis dan damai. 

5. Pengertian Akulturasi Menurut John W. Berry (2005: 698)
Menurut seorang professor, John Berry menawarkan definisinya perihal akulturasi bahwa menurutnya pengertian akulturasi yakni proses perubahan budaya dan psikologis yang terjadi sebagai akhir kontrak antara dua atau lebih kelompok dan anggota masing-masing kelompok.

6. Pengertian Akulturasi Menurut Dwi Hayudiarto (2005: 37) 
Menurut Dwi bahwa pengertian akulturasi bahwa akkulturasi mempunyai banyak sekali arti di antara para sarjana antropologi akan tetapi semua sepaham bahwa konsep demikian mengenai proses sosial yang timbul ketika suatu kelompok insan dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan absurd dengan sedemikian rupa sehingga unsur kebudayaan absurd tersebut lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa mengakibatkan kepribadian kebudayaan hilang. 

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Akulturasi

Penyebab yang melatar belakangi akulturasi sanggup terjadi dengan banyak sekali cara. Proses efek yang diterima Akulturasi juga ikut menawarkan tugas besar dalam percepatan akulturasi. Begitupula sebaliknya, terdapat juga faktor-faktor yang ikut menghambat akulturasi. Adapun faktor-faktor yang menghipnotis akulturasi yakni sebagai berikut...

1. Faktor Internal 
Terdapat faktor-faktor internal yang menghipnotis lahirnya, proses dan berhasilnya akulturasi. Adapun bentuk faktor-faktor internal tersebut yakni sebagai berikut..
  • Bertambahnya dan berkurangnya penduduk (kelahiran, final hidup dan migrasi) 
  • Adanya inovasi baru 
  • Discovery - inovasi wangsit ataupun alat gres yang sebelumnya belum pernah ada 
  • Invention atau penyempurnaan inovasi baru 
  • Innovation atau pembaruan ataupun inovasi gres yang diterapkan dalam kehidupan masyarkat sehingga sanggup menambah, melengkapi ataupun mengganti yang telah ada. Penemuan demikian mendorong kesadaran masyarakat akan kekurangan unsur dalam kehidupannya, kualitas jago atau anggota masyarakat. 
  • Konflik yang terjadi dalam masyarakat
  • Pemberontakan ataupun revolusi
2. Faktor Ekternal 
Selain faktor internal, terdapat faktor eksternal yang juga mempunyai peranan besar dalam menghipnotis akulturasi. Berikut faktor-faktor eksternal tersebut.. 
  • Perubahan alam
  • Peperangan 
  • Pengaruh kebudayaan lain melalui difusi (penyebaran kebudayaan), akulturasi (pembauran antara budaya yang masih terlihat dengan sifat-sifat khasnya masing-masing), asimilasi (pembauran antara budaya yang menghasilkan budaya yang sama sekali gres batas budaya usang tidak tampak lagi). 

Macam-Macam Bentuk Kontak Kebudayaan Yang Menimbulkan Proses Akulturasi 

Proses akulturasi dalam kebudayaan atau budaya di suatu daerah, negara, masyarakat ataupun individu, terdiri atas banyak sekali bentuk kekerabatan atau kontak sehingga proses akulturasi sanggup terjadi. Bentuk-bentuk kontak kebudayaan tersebut mengakibatkan proses akulturasi yang dijelaskan lebih rinci oleh Saebani (2012: 190-19) yakni sebagai berikut..
  1. Kontak sanggup terjadi antara seluruh masyarakat, atau penggalan dari masyarakat, dan semata-mata antara individu dari dua kelompok. Namun perlu diketahui, bahwa terdapat unsur-unsur absurd yang saling bergantung disetiap jenis-jenis kelompok sosial, begitu juga dengan status individu bertemu. 
  2. Kontak sanggup diklasifikasikan antara golongan yang dekat dan golongan yang bermusuhan. Banyak kejadian, kontak antara bnagsa dan juga suku, mulanya bersifat permusuhan. 
  3. Kontak timbul antara masyarakat dikuasai, baik secara politik maupun secara ekonomi. Pada negara jajahan bentuk kontak contohnya ini dalam suasana penindaasan yang sanggup mengakibatkan gerakan kontra akulturasi. Yaitu masyarakat yang dijajah berusaha menawarkan evaluasi yang lebih tinggi kepada kebudayaan sendiri dan bergerak secara berangasan membuatkan kembali cara hidup yang mempunyai sifat mengagunkan dan dengan jalan apapun untuk melawan penjajah. 
  4. Kontak kebudayaan terjadi antara masyarakat yang besarnya dan berbeda besarnya. 
  5. Kontak kebudayaan sanggup terjadi antara aspek-aspek material dan non materil dalam kebudayaan sederhana dengan kebudayaan kompleks antara kebudayaan yang kompleks dengan kompleks pula. 

Bentuk-Bentuk Akulturasi

Menurut para antropolog, bahwa percampuran yang terjadi terdiri atas banyak sekali bentuk sebagai berikut..

1. Substitusi 
Substitusi merupakan penggantian unsur yang usang diganti dengan unsur yang gres dengan menawarkan nilai lebih bagi para penggunanya. Contohnya, para petani mengganti alat pembajak sawah oleh mesin pembajak contohnya traktor. 

2. Sinkretisme 
Unsur budaya yang usang bahu-membahu dengan unsur budaya gres membentuk suatu sistem baru. Perpaduan demikian terjadi dalam sistem keagamaan. 

3. Penambahan (Addition) 
Addition merupakan unsur budaya usang yang ditambahkan dengan unsur budaya gres sehingga menawarkan suatu nilai lebih.

4. Penggantian (Deculturation) 
Unsur budaya yang usang hilang diganti dengan unsur budaya baru. Contohnya delman, atau andong yang diganti dengan angkot atau angkutan bermotor. 

5. Originasi 
Masuknya suatu unsur budaya gres yang tidak dikenal mengakibatkan perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Contohnya protek listrik masuk desa. 

6. Penolakan (Rejection) 
Akibat terjadinya proses perubaha sosial budaya yang sangat cepat, membawa suatu dampak negatif yang terjadinya sebuah penilakan dari sebagian anggota masyarakat yang tidak siap dan tidak baiklah terhadap adanya proses pencampuran tersebut. Contohnya sebagian orang masih ada yang percaya dukun. 

Dampak dari Akulturasi 

Menurut Saebani (2012: 191) yang menguraikan akhir yang ditimbulkan oleh akulturasi. Menurutnya, terdapat beberapa hal yang akan berdampak dari adanya akulturasi hingga dampak tersebut menyentuh dalam sikap dan sikap masyarakat maupun pribadi ke individu-individu. Adapun dampak akulturasi yakni sebagai berikut..
  • Terjadinya perubahan cara pandang perihal kehidupan bermasyarakat dari yang sebelumnya telah usang ke hal yang baru, menyerupai silaturahmi kepada orang renta dan juga kerabat harus dengan cara berhadap-hadapan, kini sanggup melalui telepon, pesan singkat dll. 
  • Terjadinya perubahan pergaulan serta makin terbukanya hal yang dianggap tabu, menyerupai kekerabatan antar dewasa yang semakin terbuka. 
  • Terbukanya wawasan masyarakat ke arah pengetahuan yang luas, menyerupai inovasi gres yang gampang di ketahui dan teknologi yang canggih. 
  • Perubahan mentalitas, rasa malu dan kepiawaian masyarakat. Seperti wanita sanggup bekerja diluar rumah, berpolitik, penguasa dan pengusaha, dan sanggup mengendalikan perusahaan besar yang notabene hanya bisa dilakukan oleh laki-laki. Tidak hanya itu, masyarakat lebih berkualitas dan intens dalam berkomunikasi dimana menemukan banyak sekali corak berpikir dan latar belakang yang gampang saja ditemui contohnya melalui telpon orang absurd ataupun pejabat dll. 

Proses Akulturasi yang Terjadi di Indonesia

Hasil akulturasi budaya ditentukan oleh kekuatan dari setiap budaya tersebut. Semakin kuat dari suatu bdaya maka kecepatan penyebarannya juga akan semakin intens. Indonesia, dengan jumlah suku, budaya dan bahasa yang tersebar di seluruh pelosok wilayah Indonesia, secara alami akan terjadi pertemuan budaya atau lebih. 

Proses akulturasi, dimana seluruh perbedaan akan berjalan bersamaan dengan unsur persamaan yang mereka punyai hingga pada jadinya budaya yang mempunyai efek lebih kuat dan berperan besar dalam proses akulturasi. Ada tiga periode akulturasi yang terjadi di Indonesia. 

1. Periode Awal (Abad 5-11 Masehi) 
Pada periode ini, unsur Hindu-Budha sangat kuat dan lebih terasa menonjol sedangkan pada unsur/ciri kebudayaan Indonesia sendiri menjadi terdesak. Tebukti dengan ditemukannya banyak sekali macam patung dewa, menyerupai Brahma, Wisnu, Siwa, dan Budha yang tersebar di kerajaan contohnya Mataram Kuno, Tarumanegara dan Kutai. 

2. Periode Pertengahan (Abad 11-16 Masehi) 
Periode pertengahan ini, terdapat unsur Hindu-Budha dan Indonesia yang telah mulai berimbang. Hal demikian disebabkan dari unsur Hindu-Budha mulai melemah sedangkan dari unsur budaya Indonesia kini kembali menonjol sehingga mengakibatkan munculnya sebuah sinkretisme (perpaduan antara dua atau lebih aliran budaya). 

Hal demikian sanggup dilihat peningalan zaman kerajaan di Jawa Timur contohnya Kediri, Majapahit, dan Singasari. Di Jawa timur telah lahir aliran Tantrayana atau suatu aliran religi yang perpaduan antara kepercayaan ndonesia orisinil dengan agama Hindu-Budha. 

3. Periode Akhir (Abad 16 hingga sekarang) 
Periode ini, unsur budaya Indonesia lebih kuat dibandingkan periode sebelumnya, sedangkan untuk unsur budaya Hindu-Budha semakin berkurang lantaran adanya perkembangan politik dan ekonomi yang terdapat di India yang tidak stabil. 

Hasil dan Contoh Akulturasi 

Berbagai proses akulturasi yang terjadi di Indonesia, telah membawa macam-macam hasil yang ikut berperan hingga kini ini. Proses ini demikian menghasilkan berupa contoh-contoh akulturasi yang hingga ketika ini, masih ada dan masih dilakukan oleh beberapa masyarakat di Indonesia. Berikut hasil atau contoh-contoh akulturasi.. 

1. Seni Bangunan 
Wujud Akulturasi yang dalam seni bangunan sanggup dilihat pada bangunan mesjid, makam, dan juga istana. Salah satu bangunan mesjid yang cukup populer hingga ketika ini, yakni masjid menarap kudus atau sering disebut dengan Masjid Al-Aqsa dan Al-Manar ini merupakan bukti akulturasi budaya yang dibangun oleh Sunan Kudus di tahun 956 Hijriah atau 1549 Masehi. 

2. Seni Rupa 
Tradisi Islam yang tidak menggambarkan bentuk insan maupun hewan. Seni ukir relief yang menghias Masjid, makam Islam berupa terusan tumbuh-tumbuh namun terjadi suatu perpaduan dua aliran senin logam. 

3. Aksara dan Seni Sastra 
Tersebarnya agama Islam di Indonesia besar lengan berkuasa terhadap bidang abjad ataupun tulisan, yaitu masyarakat mulai mengenal goresan pena Arab, dan bahkan sanggup berubah menjadi goresan pena Arab Melayu atau biasa dikenal dengan istilah Arab Gundul yakni Tulisan Arab yang dipakai untuk bahasa Melayu akan tetapi tidak memakai gejala a, i, u contohnya goresan pena Arab. Di samping itu, huruf Arab berubah menjadi seni kaligrafi yang sering dipakai sebagai motif hiasan ataupun gesekan dan gambar wayang. Adapun bentuk-bentuk seni sastra yakni hikayat, babad, suluk, dan primbon. 

4. Sistem Pemerintahan 
Sistem pemerintahan juga ikut dipengaruhi dari hadirnya akulturasi. Sebelum masuknya Islam di Indonesia, kerajaan bercorak Hindu-Budha mengalami keruntuhan dan digantikan dari peranan kerajaan-kerajaan bercorak Islam contohnya Samudra Pasai, Demak, Malaka dan juga sebagainya. Sistem pemerintahan Islam, dimana rajanya bergelar sultan atau Sunan menyerupai halnya para wali dan rasa yang meninggal tidak lagi dimakamkan candi akan tetapi dimakamkan secara Islam. 

5. Sistem Kalender 
Sebelum budaya Islam masuk ke Indonesia, masyarakat telah mengenal sistem kalender yang berupa kalender Saka (Kalender Hindu) di tahun 78 M. Setelah berkembangnya Islam di Indonesia, sultan agung dari mataram menciptakan kalender Jawa, dari perhitungan peredaran bulan (komariah) contohnya tahun Hijriah (Islam).  

Selain itu, terdapat contoh-contoh lain dari hasil akulturasi yang masuk ke Indonesia hingga hingga ketika ini terus berkembang. Contoh-contoh tersebut yakni sebagai berikut.. 
  • Angppaw (Negeri Cina)
  • Hallowen (Eropa) 
  • Thanks Giving (Eropa) 
  • Valentine (Eropa) 
  • Dll.
Demikianlah isu mengenai Akulturasi. Semoga isu ini sanggup menambah pengetahuan kita perihal banyak sekali budaya-budaya luar sehingga bisa untuk kita saring atau filter akan sesuatu hal yang sanggup membawa manfaat. Sekian dan terima kasih. Salam Berbagai Teman-Teman. 
Gobekasi: Pengertian Akulturasi, Proses, Bentuk, Referensi & Imbas Akulturasi Gobekasi: Pengertian Akulturasi, Proses, Bentuk, Referensi & Imbas Akulturasi
REDAKSI :
Judul Article : Gobekasi: Pengertian Akulturasi, Proses, Bentuk, Referensi & Imbas Akulturasi
Link Judul : Gobekasi: Pengertian Akulturasi, Proses, Bentuk, Referensi & Imbas Akulturasi
Gobekasi: Pengertian Akulturasi, Proses, Bentuk, Referensi & Imbas Akulturasi https://www.gobekasi.co.id/2018/11/gobekasi-pengertian-akulturasi-proses.html Silakan Baca Artikel Selanjutnya Di Bawah Ini