Gobekasi: Pengertian Qurban, Doa Dan Keutamaan Ibadah Qurban Serta Hukumnya
Cari Berita

Advertisement

Gobekasi: Pengertian Qurban, Doa Dan Keutamaan Ibadah Qurban Serta Hukumnya

Ndaru Im
Sunday, November 25, 2018

Pengertian Qurban | Pada setiap tanggal 10 Dzulhijjah, semua umat Islam yang tak melaksanakan haji itu merayakan hari raya idul Adha. Pada hari itu, umat Islam sangat disunnahkan untuk sanggup berkurban dimana mereka menyembelih binatang Qurban untuk selanjutnya dibagi-bagikan kepada seluruh umat Islam pada suatu daerah. Kemudian apakah bekerjsama arti Qurban itu?? Di bawah ini kita akan jelaskan secara lengkap apa itu Qurban?.
Qurban berasal dari bahasa Arab "Qurban" berarti dekat. Kurban dalam Islam juga biasa disebut dengan adh-dhahiyyah dan al-udhhiyyah yang berarti binatang sembelihan menyerupai sapi, unta dan kambing yang disembelih pada hari raya idul adha dan hari-hari tasyriq sebagai bentuk taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pengertian Qurban

Dalil Disyari'atkannya Qurban

Allah SWT sudah mensyariatkan Qurban dengan firmannya ". “Sesungguhnya Kami telah memperlihatkan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat sebab Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus.” (Al-Kautsar: 1 — 3).
“Dan telah Kami jadikan untuk kau unta-unta itu sebagai syiar Allah. Kamu banyak memperoleh kebaikan dari padanya, maka sebutlah nama Allah saat kau menyembelihnya.” (Al-Hajj: 36).

Keutamaan Ibadah Qurban

Dari Aisyah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda “Tidak ada suatu amalan pun yang dilakukan oleh insan pada hari raya Kurban yang lebih dicintai Allah SWT dari menyembelih binatang Kurban. Sesungguhnya binatang Kurban itu kelak pada hari tamat zaman akan tiba beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya sebelum darah Kurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima di sisi Allah, maka beruntunglah kalian semua dengan (pahala) Kurban itu.” (HR Tirmidzi).

Hukum BerQurban

Ibadah Qurban hukumnya sunnah Muakkadah (Sunnah yang sangat dianjurkan). Bagi orang yang sanggup melakukannya kemudian dia meninggalkan hal tersebut maka dia dihukumi secara makruh. Hal tersebut menurut hadis yang dirawayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Nabi Muhammad SAW pernah berkurban dengan dua kambing kibasy yang masing-masing berwarna putih kehitam-hitaman dan bertanduk. Beliau sendiri yang melaksanakan penyembelihan qurban tersebut dan membacakan nama Allah serta bertakbir (waktu memotongnya).
Dari Ummu Salamah ra, Nabi saw bersabda, “Dan jikalau kalian telah melihat hilal (tanggal) masuknya bulan Dzul Hijjah, dan salah seorang di antara kau ingin berkurban, maka hendaklah ia membiarkan rambut dan kukunya.” HR Muslim Arti sabda Nabi saw, ” ingin berkorban” ialah dalil bahwa ibadah kurban ini sunnah, bukan wajib.
Diriwayatkan dari Abu Bakar dan Umar ra bahwa mereka berdua belum pernah melaksanakan kurban untuk keluarga mereka berdua, karena keduanya takut jikalau perihal kurban itu dianggap wajib.

Hikmah Qurban

Ibadah Qurban disyariatkan Allah untuk mengenang sejarah Idul Adha itu sendiri yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS dan sebagai suatu upaya untuk sanggup memperlihatkan fasilitas pada hari ID, sebagaimana yang sudah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, “Hari-hari itu tidak lain ialah hari-hari untuk makan dan minum serta berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla.”

Syarat-syarat Qurban

Binatang yang diperbolehkan untuk Qurban

Binatang yang sanggup untuk Qurban yaitu kambing, kerbau (sapi) dan onta. Untuk selain yang tiga jenis ini tak diijinkan. Allah SWT berfirman, “supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka.” (Al-Hajj: 34).
Dan dianggap memadai berqurban dengan domba yang berusia setengah tahun, kambing jawa yang berumur satu tahun, sapi yang telah berusia dua tahun dan unta yang mempunyai usia lima tahun, baik itu betina atau jantan. Hal tersebut sesuai dengan hadits-hadits dibawah ini.
Dari Abu Hurairah ra berkata, saya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Binatang kurban yang paling anggun ialah kambing yang jadza’ (powel/berumur satu tahun).” (HR Ahmad dan Tirmidzi). Dari Uqbah bin Amir ra, saya berkata, wahai Rasulullah saw, saya mempunyai jadza’, Rasulullah saw menjawab, “Berkurbanlah dengannya.” (HR Bukhari dan Muslim). Dari Jabir ra, Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian mengurbankan binatang kecuali yang berumur satu tahun ke atas, jikalau itu menyulitkanmu, maka sembelihlah domba Jadza’.” Juga tak mengapa berqurban dengan binatang yang tidak bersuara, yang buntutnya sudah terputus, yang bunting, dan yang tak ada sebagian pendengaran atau sebagian besar bokongnya sudah tidak ada. Menurut yang tershahih dalam mazhab Syafi'i bahwa yang bokong atau pantatnya terputus tak mencukupi, begitu juga yang mempunyai puting susunya tak ada, sebab hilangnya sebagian orang yang sanggup dimakan. Demikian juga yang mempunyai ekor yang sudah terputus. Imam Syafi'i berkata, “Kami tidak memperoleh hadis perihal gigi sama sekali".

Waktu Penyembelihan Hewan Qurban

Untuk Qurban yang disyaratkan tak disembelih sehabis terbit matahari pada hari Idul Adha. Setelah itu sanggup menyembelihnya di hari mana saja yang termasuk hari-hari Tasyrik, baik siang atau malam. Setelah tiga hari tersebut tak ada lagi waktu penyembelihannya.
Dari al-Barra’ ra Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya yang pertama kali kita lakukan pada hari ini (Iduladha) ialah kita salat, kemudian kita kembali dan memotong kurban. Barangsiapa melaksanakan hal itu, berarti ia mendapatkan sunnah kami. Dan barangsiapa yang menyembelih sebelum itu, maka sembelihan itu tidak lain hanyalah daging yang ia persembahkan kepada keluarganya yang tidak termasuk ibadah kurban sama sekali.”
Abu Burdah berkata, “Pada hari Nahar, Rasulullah saw berkhotbah di hadapan kami, dia bersabda: ‘Barangsiapa salat sesuai dengan salat kami dan menghadap ke kiblat kami, dan beribadah dengan cara ibadah kami, maka ia tidak menyembelih kirban sebelum ia salat’.”
Dalam hadis yang lain, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang menyembelih sebelum salat, maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya. Dan barangsiapa yang menyembelih sehabis salat dan khotbah, sesungguhnya ia telah sempurnakan dan ia mendapat sunnah umat Islam.” (HR Bukhari dan Muslim).

Bergabung dalam Qurban

Dalam berqurban dibolehkan untuk bergabung kalau binatang qurban itu berupa sapi (kerbau) atau onta. Karena Sapi (kerbau) atau unta itu berlaku untuk tujuh orang jikalau merasa bermaksud berqurban dan bertaqarrub kepada Allah SWT. Dari Jabir ra berkata, “Kami menyembelih kurban bersama Nabi saw di Hudaibiyyah seekor unta untuk tujuh orang, begitu juga sapi (kerbau).” (HR Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi)

Pembagian Daging Qurban

Disunahkan bagi orang yang berqurban memakan daging qurbannya, menghadiahkannya kepada para kerabat, dan menyerahkannya kepada orang-orang fakir. Rasulullah saw bersabda, “Makanlah dan berilah makan kepada (fakir-miskin) dan simpanlah.” Dalam hal ini termasuk para ulama menyampaikan yang baik atau afdhal yaitu memakan daging itu sepertiga, menyedekahkannya sepertiga dan menyimpannya sepertiga.
Daging qurban sanggup diangkut (Dipindahkan) sekalipun ke negara lain. Akan tetapi, tak sanggup dijual, begitu juga dengan kulitnya. Dan tak sanggup memberi kepada tukang potong daging sebagai upahnya. Tukang potong berhak menerimanya sebagai imbalan kerja. Orang berqurban sanggup berinfak dan mengambil qurbannya untuk sanggup dimakan atau dimanfaatkan.
Menurut Abu Hanifah, bahwa boleh menjual kulitnya dan uangnya disedekahkan atau dibelikan barang yang bermanfaat untuk rumah.

Orang yang Berqurban Menyembelihnya Sendiri

Orang yang berqurban yang cerdik menyembelih disunahkan menyembelih sendiri binatang qurbannya. Ketika menyembelih disunahkan membaca doa qurban, “Bismillahi Allahu Akbar, Allahumma haadza ‘an?” (Dengan nama Allah dan Allah Maha Besar, ya Allah kurban ini dari ?[sebutkan namanya]).

Karena, Rasulullah saw menyembelih seekor kambing kibasy dan membaca, “Bismillahi wallahu Akbar, Allahumma haadza ‘anni wa’an man lam yudhahhi min ummati” (Dengan nama Allah, dan Allah Maha Besar, Ya Allah sesungguhnya (kurban) ini dariku dan dari umatku yang belum berkurban).” (HR Abu Daud dan Tirmidzi).

Jika orang yang berkurban tidak cerdik menyembelih, hendaknya dia menghadiri dan menyaksikan penyembelihannya.

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra, Rasulullah saw bersabda, “Wahai Fatimah, bangunlah. Dan saksikanlah kurbanmu. Karena, setetes darahnya akan memohon ampunan dari setiap dosa yang telah kau lakukan. Dan bacalah: ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku–korbanku–hidupku, dan matiku untuk Allah Tuhan semesta Alam. Dan untuk itu saya diperintah. Dan saya ialah orang-orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah,’ Seorang sobat kemudian bertanya, ‘Wahai Rasulullah saw, apakah ini untukmu dan khusus keluargamu atau untuk kaum muslimin secara umum?’ Rasulullah saw menjawab, ‘Bahkan untuk kaum muslimin umumnya’.”

Demikianlah informasi perihal pengertian qurban dan doa qurban serta tata cara qurban. Semoga saja informasi ini sanggup memperlihatkan manfaat kepada anda yang sedang mempelajari perihal apa itu qurban.
Gobekasi: Pengertian Qurban, Doa Dan Keutamaan Ibadah Qurban Serta Hukumnya Gobekasi: Pengertian Qurban, Doa Dan Keutamaan Ibadah Qurban Serta Hukumnya
REDAKSI :
Judul Article : Gobekasi: Pengertian Qurban, Doa Dan Keutamaan Ibadah Qurban Serta Hukumnya
Link Judul : Gobekasi: Pengertian Qurban, Doa Dan Keutamaan Ibadah Qurban Serta Hukumnya
Gobekasi: Pengertian Qurban, Doa Dan Keutamaan Ibadah Qurban Serta Hukumnya https://www.gobekasi.co.id/2018/11/gobekasi-pengertian-qurban-doa-dan.html Silakan Baca Artikel Selanjutnya Di Bawah Ini