Gobekasi Perdarahan Kanal Cerna Bab Atas
Cari Berita

Advertisement

Gobekasi Perdarahan Kanal Cerna Bab Atas

Ndaru Im
Tuesday, November 20, 2018

Bahasan perdarahan jalan masuk cerna penggalan atas
No. ICPC II : -
D14 Haematemesis atau vomiting blood
D15 Melena

Rincian Tingkat Kemampuan Dokter:
a. Ruptur esofagus: kompetensi 1
b. Varises esofagus: kompetensi 2
c. Ulkus gaster: kompetensi 3A
d. Lesi korosif esofagus: kompetensi 3B

Masalah Kesehatan
 Bahasan perdarahan jalan masuk cerna penggalan atas gobekasi Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas
ilustrasi gambar perdarahan jalan masuk cerna penggalan atas
Perdarahan jalan masuk cerna merupakan dilema yang cukup sering dihadapi. Manifestasinya sanggup bervariasi mulai dari perdarahan yang bersifat masif yang mengancam jiwa hingga perdarahan yang bersifat samar yang sering tidak diketahui dan dirasakan. Pendekatan yang dilakukan pada pasien dengan perdarahan dan lokasi perdarahan jalan masuk cerna yaitu dengan cara memilih beratnya perdarahan dan lokasi terjadinya perdarahan. 

Hematemesis (muntah darah segar atau berwarna hitam) sering menawarkan tanda perdarahan dari jalan masuk cerna penggalan atas yaitu pada batas proksimal dari ligamentum Treitz. Melena (tinja berwarna hitam dan berbau khas) biasanya juga terjadi jawaban perdarahan jalan masuk cerna pada penggalan atas, meskipun demikian perdarahan dari usus halus atau kolon penggalan kanan, juga sanggup mengakibatkan melena dan tetap dipertimbangkan. Hematokezia (perdarahan merah segar) biasanya sebagai penanda sumber perdarahan berasal dari kolon, meskipun perdarahan dari jalan masuk cerna penggalan atas banyak juga yang sanggup memunculkan hematokezia atau feses berwarna marun.

Perdarahan akut Saluran Cerna Bagian Atas (SCBA) yaitu salah satu penyakit yang sering ditemui di penggalan gawat darurat rumah sakit. Sebagian besar pasien tiba dalam keadaan stabil dan sebahagian lainnya juga tiba dalam keadaan gawat darurat yang membutuhkan tindakan yang segera dan tepat. 

Di Indonesia sendiri perdarahan alasannya yaitu ruptura varises gastroesofagus merupakan penyebab tersering yaitu sebesar 50-60%, gastritis erosiva hemoragika sekitar 25-30%, tukak peptik sekitar 10-15% dan oleh peyebab lainnya sebanyak < 5%. Angka mortalitas secara keseluruhan relatif masih tinggi yaitu sekitar 25%. Kematian pada pasien ruptur varises sanggup mencapai kisaran 60% sementara ajal pada perdarahan non-varises sebanyak 9-12%.


Anamnesis Pada Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas

Keluhan
Pasien biasanya tiba dengan keluhan muntah darah berwarna hitam menyerupai debu kopi (hematemesis) atau buang air besar berwarna hitam mirip aspal atau ter (melena), Gejala klinis yang lain sesuai dengan komorbid, mirip gejala-gejala dari penyakit hati kronis, penyakit paru, penyakit ginjal, ataupun jantung dan sebagainya.

Umumnya melena yaitu tanda perdarahan di jalan masuk cerna penggalan atas atau usus halus, tetapi melena sanggup juga berasal dari perdarahan kolon di sebelah kanan dengan kondisi perlambatan mobilitas. Perlu diingat juga bahwa tidak semua kotoran hitam ini melena alasannya yaitu bismuth, lycorice, sarcol, dan obat-obatan yang mengandung besi (obat penambah darah dan anemia) sanggup mengakibatkan warna feses menjadi hitam.

Pada anamnesis yang perlu dikonfirmasi ialah riwayat dispepsia, riwayat penyakit hati kronis, riwayat konsumsi obat-obat NSAID, alkohol, obat rematik, dan jamu – jamuan, obat untuk penyakit jantung, obat stroke. Kemudian ditanyakan juga riwayat penyakit paru, penyakit ginjal, dan adanya riwayat perdarahan di penggalan badan lainnya. Riwayat muntah-muntah sebelum munculnya hematemesis sangat mendukung adanya kemungkinan sindroma Mallory Weiss.

Faktor Risiko
Riwayat sering konsumsi obat NSAID dalam jangka lama

Faktor Predisposisi
Riwayat penyakit hati (seperti serosis hepatis).


Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Pada Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas

Pemeriksaan Fisik

  1. Penilaian kondisi hemodinamik.
  2. Evaluasi jumlah perdarahan yang terjadi.
  3. Pemeriksaan fisik lainnya yang diharapkan untuk mencari stigmata penyakit hati kronis (asites,  edema tungkai, eritema palmaris, ikterus, spider nevi, splenomegali), massa abdomen, nyeri  pada abdomen, rangsangan pada peritoneum, penyakit paru, penyakit jantung, penyakit rematik dll.
  4. Rectal toucher, warna feses mempunyai nilai prognostik tersendiri.
  5. Dalam mekanisme diagnosis ini penting untuk melihat aspirat dari Naso Gastric Tube (NGT). Aspirat yang berwarna putih keruh menerangkan adanya perdarahan tidak aktif, aspirat yang berwarna merah marun menerangkan adanya perdarahan masif dan sangat mungkin perdarahan dari arteri. Sebagaimana warna feses maka warna aspirat pun sanggup dipakai untuk memprediksi mortalitas pada pasien. Walaupun demikian pada sekitar 30% pasien dengan perdarahan tukak duodenum didapatkan adanya aspirat yang jernih pada NGT nya 

Pemeriksaan Penunjang

  1. Laboratorium darah lengkap, faal hati, faal hemostasis, faal ginjal, gula darah, elektrolit, penanda penyakit hepatitis B dan C.
  2. Rontgen dada dan elektrokardiografi.
  3. Pemeriksaan endoskopi merupakan gold standard dalam mekanisme diagnosis ini. Tindakan ini sanggup juga dipakai sebagai terapi disamping sebagai alat diagnostik.
  4. Pada beberapa keadaan dimana investigasi endoskopi tidak sanggup dilakukan, investigasi dengan kontras barium (OMD) dengan angiografi atau skintigrafi mungkin bisa membantu.


Diagnosis Pada Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasar anamnesis, investigasi fisik dan penunjang.

Diagnosis Banding

  1. Hemoptisis
  2. Hematoskezia


Komplikasi Pada Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas


  1. Syok hipovolemia
  2. Aspirasi pneumonia
  3. Gagal ginjal akut
  4. Anemia alasannya yaitu perdarahan
  5. Sindrom hepatorenal
  6. Koma hepatikum

Penatalaksanaan Komprehensif Pada Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas

Penatalaksanaan
A. Identifikasi dan antisipasi terhadap terjadinya gangguan hemodinamik harus dilakukan secara prima di lini terdepan alasannya yaitu keberhasilannya akan menghipnotis prognosis pada pasien
B. Langkah awal untuk menstabilkan kondisi hemodinamik.
  • Pemasangan IV line paling sedikit 2
  • Dianjurkan pemasangan CVP
  • Oksigen sungkup/kanula. Bila ada gangguan A-B perlu dipasang ETT
  • Mencatat intake output, harus dipasang kateter urine
  • Memonitor tekanan darah, nadi, saturasi oksigen dan keadaan lainnya sesuai dengan komorbid yang ada.
C. Pemasangan NGT (nasogatric tube)
  • Melakukan bilas lambung biar memudahkan dalam melaksanakan tindakan endoskopi.
  • Transfusi untuk mempertahankan hematokrit > 25%
D. Pemeriksaan laboratorium segera diharapkan pada kasus-kasus yang membutuhkan transfusi lebih dari 3 unit PRC. Pasien yang stabil sesudah investigasi dianggap cukup stabil, pasien sanggup segera dirawat untuk terapi lanjutan atau persiapan endoskopi.
E. Konsultasi ke dokter seorang mahir terkait dengan penyebab dari perdarahan.
F. Penatalaksanaan sesuai dengan penyebab perdarahan
G. Tirah baring
H. Puasa/Diet hati/lambung
  1. Injeksi antagonis reseptor H2 atau penghambat pompa proton (PPI)
  2. Sitoprotektor: sukralfat 3-4x1 gram
  3. Antasida sirup atau tablet
  4. Injeksi vitamin K untuk pasien dengan penyakit hati kronis
  5. Terhadap pasien yang diduga berpengaruh alasannya yaitu ruptura varises gastroesofageal sanggup diberikan: somatostatin bolus 250 ug + drip 250 mikrogram/jam atau oktreotid bo 0,1mg/2 jam. Pemberian diberikan hingga perdarahan berhenti atau kalau bisa diteruskan 3 hari sesudah ligasi varises.
  6. Propanolol, dimulai takaran 2x10 mg sanggup ditingkatkan hingga tekanan diastolik turun 20 mmHg atau denyut nadi turun 20%.
  7. Laktulosa 4x1 sendok makan
  8. Neomisin 4x500 mg
  9. Sebagian besar pasien dengan perdarahan SCBA sanggup berhenti sendiri, tetapi pada 20% sanggup berlanjut. Walaupun sudah dilakukan terapi endoskopi pasien sanggup mengalami perdarahan ulang. Oleh alasannya yaitu itu perlu dilakukan assessmen yang lebih akurat untuk memprediksi perdarahan ulang dan mortalitas.
  10. Prosedur bedah dilakukan sebagai tindakan emergensi atau elektif.
Konseling dan Edukasi
Keluarga ikut mendukung untuk menjaga diet dan pengobatan pasien.

Kriteria Rujukan
Konsultasi ke dokter seorang mahir terkait dengan penyebab perdarahan.

Prognosis
Prognosis untuk kondisi ini yaitu dubia, mungkin tidak hingga mengancam jiwa, namun ad fungsionam dan sanationam umumnya dubia ad malam.


Gobekasi Perdarahan Kanal Cerna Bab Atas Gobekasi Perdarahan Kanal Cerna Bab Atas
REDAKSI :
Judul Article : Gobekasi Perdarahan Kanal Cerna Bab Atas
Link Judul : Gobekasi Perdarahan Kanal Cerna Bab Atas
Gobekasi Perdarahan Kanal Cerna Bab Atas https://www.gobekasi.co.id/2018/11/gobekasi-perdarahan-kanal-cerna-bab-atas.html Silakan Baca Artikel Selanjutnya Di Bawah Ini