pengertian zakat macam macam zakat serta infaq dan sedekah lengkap
Cari Berita

Advertisement

pengertian zakat macam macam zakat serta infaq dan sedekah lengkap

Ndaru Im
Wednesday, December 12, 2018



PENGERTIAN ZAKAT


Pengertian zakat dan hukumya - Dalam artikel ini akan dijelaskan pengertian zakat didalam islam, pembahasan ini akan sedikit panjang sehingga anda harus berkonsentrasi untuk membaca keseluruhannya. Jika perlu anda boleh print halaman ini untuk anda baca nanti. Atau anda juga boleh memposting kembali dengan syarat menunjukkan link kehalaman ini.
Oke pribadi saja silahkan disimak pengertian zakat berikut ini. Untuk lebih memudahkan anda membaca artikel ini, admin sudah menciptakan daftar isi dibawah ini, silahkan anda klik salah satu dari daftar isi tersebut untuk mengarah pribadi kepada pembahasan yang dituju.
Pengertian zakat dan hukumya - Dalam artikel ini akan dijelaskan pengertian zakat didalam islam, pembahasan ini akan sedikit panjang sehingga anda harus berkonsentrasi untuk membaca keseluruhannya. Jika perlu anda boleh print halaman ini untuk anda baca nanti. Atau anda juga boleh memposting kembali dengan syarat menunjukkan link kehalaman ini. Oke pribadi saja silahkan disimak pengertian zakat berikut ini. Untuk lebih memudahkan anda membaca artikel ini, admin sudah menciptakan daftar isi dibawah ini, silahkan anda klik salah satu dari daftar isi tersebut untuk mengarah pribadi kepada pembahasan yang dituju.

                                PENGERTIAN ZAKAT


Menurut kitab lughah Lisanul Arab (XIV/358) secara bahasa zakat bermakna penyucian, barakah, berkembang, bertambah

Dalam pengertian terminologi syariah, zakat adalah 
التعبد لله عز وجل بإعطاء ما أوجبه من أنواع الزكوات إلى مستحقيها على حسب ما بينه الشرع

Artinya: Ibadah kepada Allah dalam bentuk memberikan harta zakat yang diwajibkan kepada yang berhak menurut syariah.


Macam Macam Zakat Berdasarkan Islam

Ditinjau dari segi bahasa, kata Zakat merupakan kata dasar (mashdar) dari Zakaa yag berarti berkah, tumbuh, bersih, dan baik. Sesuatu itu zakaa berarti sesuatu itu tumbuh dan berkembang, dan seseorang itu zakaa, berarti orang itu baik.

Dari kata zakaa, menjadi kata "zakat", yaitu sesuatu yang dikeluarkan oleh insan dari sebagian hak Alloh SWT, untuk disalurkan kepada fakir miskin. Dinamai demikian sebab padanya ada keinginan menerima berkah atau membersihkan jiwa atau menumbuhkannya dengan kebaikan dan berkah.
Zakat berdasarkan bahasa ialah berkembang dan suci. Yakni membersihkan jiwa atau menyebarkan keutamaan-keutamaan jiwa dan menyucikannya dari dosa-dosa dengan menginfakkan harta di jalan Alloh dan menyucikannya dari sifat kikir, bakhil, dengki, dan lain-lain.

Zakat berdasarkan syara' ialah menunjukkan (menyerahkan) sebagian harta tertentu untuk orang tertentu yang telah ditentukan syara' dengan niat sebab Alloh.

Al-Mawardi  dalam kitab Al-Hawi pernah berkata: "Zakat itu sebutan untuk pengambilan tertentu dari harta yang tertentu, berdasarkan sifat-sifat yang tertentu untuk diberikan kepada golongan tertentu."
Istilah zakat diberikan untuk beberapa arti. Namun yang berkembang dalam masyarakat, istilah zakat dipakai untuk shodaqoh wajib dan kata shodaqoh dipakai untuk shodaqoh sunat.

Zakat merupakan al-'ibadah al-maaliyah al-ijtimaa'iyah (ibadah di bidang harta yang mempunyai nilai sosial). Meskipun tergolong ibadah mahdloh dalam hal tata cara perhitungan dan pembagiannya, namun nilai sosial dalam ibadah zakat begitu kental, sehingga dalam pelaksanaannya diharapkan sekelompok yang bertugas mengelola segala aspek perzakatan, tidak diserahkan kepada kesadaran individu masing-masing. 
Hukum zakat yang wajib meniscayakan bahwa zakat bukan semata merupakan bentuk kedermawanan, melainkan bentuk ketaatan kepada Alloh SWT sehingga harus diperhatikan mengenai tata cara pembayaran dan pembagiannya. Oleh sebab itu, para ulama fiqih kemudian memasukkan ibadah zakat sebagai qadla'iy (ibadah yang kalau tidak dilaksanakan, ada hak orang lain yang terambil), bukan ibadah dayyaniy (ibadah yang kalau tidak dilaksanakan tidak ada hak orang lain yang terambil), ibarat sholat. Karena sifat zakat yang qadla'iy, maka pelaksanaan zakat tidak bisa dilakukan secara individual, oleh sebab itu pada zaman rosululloh dan khulafaurraasyidin, pengelolaan zakat menjadi kiprah dan tanggung jawab penguasa, bukan masyarakat secara perseorangan.

Zakat juga berarti tumbuh dan berkembang, Tumbuh dan berkembang ini bisa dilihat dari dua sisi, yaitu sisi muzakki (orang yang wajib mengeluarkan zakat) dan sisi mustahiq (orang yang berhak mendapatkan zakat).
Pertama, dari sisi muzakki, Alloh SWT menjanjikan bagi siapa saja yang mau mengeluarkan hartanya dalam bentuk zakat, infaq, maupun shodaqoh, akan diberi ganjaran yang berlipat, tidak hanya di alam abadi melainkan juga di dunia. Terbukti bahwa belum pernah ada seorang yang jatuh miskin dan gulung tikar sebab membayar zakat. Hal ini sebagaimana firman Alloh SWT:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّئَةُ حَبَّةٍ وَاللّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاء وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya: "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Alloh ialah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Alloh melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang beliau kehendaki. Dan Alloh maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui." (Q.S. Al-Baqoroh Ayat 261)

Dan Rosululloh SAW bersabda: "Tidak akan berkurang harta sebab bersedekah, dan tidak akan dizholimi seseorang dengan kezholiman kemudian ia bersabar atasnya, kecuali Alloh akan menambnya kemuliaan, dan tidaklah seorang hamba membuka jalan keluar untuk suatu permasalahan kecuali Alloh akan membebaskannya dari pintu kemiskinan atau semisalnya. (H.R. Tirmidzi).

Kedua, dari sisi mustahiq, dengan zakat yang diberikan secara terprogram bagi mustahiq, akan bisa menyebarkan harta yang dimilikinya, bahkan akan bisa mengubah kondisi seseorang yang asalnya mustahiq menjadi muzakki.

Hukum Zakat

Hukum zakat ialah wajib. Zakat ialah sebuah kewajiban individu (fardhu 'ain) yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim yang mempunyai harta tertentu, dan diambil oleh para petugas zakat. Perhatikan firman Alloh SWT dibawah ini:

خُذْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya: "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kau membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kau itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Alloh maha mendengar lagi maha mengetahui". (Q.S At-Taubah ayat 103)

Ancaman Untuk Orang Yang Tidak Mau Mengeluarkan Zakat

Bagi mereka yang sudah kena kewajiban zakat, tapi tidak mau membayarnya, maka siksa yang sangat pedih akan mereka terima di akherat kelak. Bahkan bahaya Alloh SWT demikian kerasnya. Alloh SWT berfirman didalam Al-Quran surat At-Taubah ayat 34-35 yang artinya:

"Orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Alloh, peringatkanlah mereka perihal adzab yang pedih. Pada hari emas dan perak dipanaskan dalam api neraka, kemudian dibakar dengannya dahi-dahi mereka, rusuk-rusuk, dan punggung, dan dikatakan kepada mereka, "Inilah kekayaan yang kalian timbun dahulu, rasakanlah oleh kalian kekayaan yang kalian simpan itu." (Q.S. At-Taubah ayat 34-35).

Orang Yang Berhak Menerima Zakat

Orang yang berhak mendapatkan zakat atau sering disebut dengan mustahiq zakat ialah ibarat yang Alloh SWT firmankan dalam quran surat At-Taubah ayat 60 yang artinya:
Orang yang berhak mendapatkan zakat atau sering disebut dengan mustahiq zakat ialah ibarat yang Alloh SWT firmankan dalam quran surat At-Taubah ayat 60 yang artinya:

"Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para pengurus zakat (amilin), para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak. Orang-orang yang berutang, untuk jalan Alloh, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Alloh; dan Alloh maha mengetahui lagi maha bijaksana". (Q.S At-Taubah: 60)

Dari ayat tersebut bisa kita ambil kesimpulan bahwa mustahiq zakat itu ada 8 ashnaf (bagian). Yaitu sebagai berikut:
  1. Fakir
    Fakir ialah orang yang tidak bisa memenuhi kebutuhan primer (kebutuhan sehari-hari) sebab tidak bisa kasab (usaha).
  2. Miskin
    Miskin ialah orang yang bisa kasab (usaha) tapi tidak mencukupi kebutuhan primer (kebutuhan sehari-hari).
  3. Amilin
    Amilin ialah orang yang diangkat oleh pemimpin untuk menggarap tugas-tugas pemungutan, pengumpulan, pemeliharaan, pencatatan, dan pembagian zakat.
  4. Muallaf
    Muallaf ialah orang yang dijinakkan hatinya untuk kepentingan islam dan kaum muslimin.
  5. Riqob
    Riqob ialah membebaskan/memerdekakan hamba sahaya dari perhambaannya sehingga ia lepas dari ikatan dengan tuannya.
  6. Ghorimin
    Ghorimin ialah orang-orang yang karam dalam utang dan tidak bisa membayar. Utang tersebut bukan untuk maksiat, penghamburan, atau sebab kebodohan, belum dewasa, dll.
  7. Fii Sabiilillah
    Fii sabiilillah ialah kemaslahatan umum kaum muslimin yang dengan zakat itu bangun islam dan daulahnya dan bukan untuk kepentingan pribadi.
  8. Ibnu Sabil
    Ibnu sabil ialah orang yang kehabisan ongkos di perjalanan dan tidak bisa mempergunakan hartanya.

Macam Macam Zakat

Secara global, zakat terbagi kepada dua bagian, yaitu zakat fitrah dan zakat maal.
Secara global, zakat terbagi kepada dua bagian, yaitu zakat fitrah dan zakat maal.

1.  Zakat Fitrah

Zakat fitrah atau zakat tubuh ialah zakat yang wajib dikeluarkan satu kali dalam setahun oleh setiap muslim mukallaf (orang yang dibebani kewajiban oleh Alloh) untuk dirinya sendiri dan untuk setiap jiwa yang menjadi tanggungannya. Jumlahnya sebanyak satu Sha' (1.k 3,5 liter/2,5 Kg) per orang, yang didistribusikan pada tanggal 1 Syawal sehabis sholat shubuh sebelum sholat Iedul Fitri.
Hukum zakat fitrah ialah wajib. Seperti yang diterangkan dalam hadits yang diterima oleh Ibnu Abbas yang artinya:
"Rosululloh SAW telah mewajibkan zakat fitri untuk menyucikan orang yang shaum dari segala perkataan yang keji dan jelek yang mereka lakukan selama mereka shaum, dan untuk menjadi masakan bagi orang-orang yang miskin". (H.R. Abu Daud)

2. Zakat Maal/Zakat Harta

Zakat maal terdiri dari beberapa macam, yaitu:
  • Zakat Emas, Perak, dan Uang
    Zakat ini aturan nya wajib ibarat yang Alloh firmankan dalam quran surat At-Taubah ayat 34-35 (silahkan lihat diatas). Orang yang mempunyai emas wajib mengeluarkan zakat saat sudah hingga pada nishabnya, Nishab emas sebesar 20 dinar (90 gram), nishab perak sebesar 200 dirham (600 gram), dan kadar zakatnya sebanyak 2,5%. Dan zakat ini dikeluarkan saat sudah mencapai haul (setahun sekali), maksudnya saat seseorang mempunyai emas yang sudah mencapai nashab (90 gram) dan disimpan/dipunyai selama satu tahun, maka wajib mengeluarkan zakat.
  • Zakat Ziro'ah (pertanian/segala macam hasil bumi)
    Yaitu zakat dari pertanian. Zakat ini wajib ibarat yang dijelaskan Alloh SWT dalam quran surat Al-An'am ayat 141.
  • Zakat Ma'adin (barang galian)
    Maksud ma'adin yaitu segala yang dikeluarkan dari bumi yang
  • Zakat Rikaz (harta temuan/harta karun)
    Yang dimaksud rikaz ialah harta (barang temuan) yang sering dikenal dengan istilah harta karun. Tidak ada nishab dan haul, besar zakatnya 20%.
  • Zakat Binatang Ternak
    Orang yang memelihara binatang ternak wajib mengeluarkan zakatnya.
  • Zakat Tizaroh (perdagangan)
    Ketentuan zakat ini ialah tidak ada nishab, diambil dari modal (harga beli), dihitung dari harga barang yang terjual sebesar 2,5%.

Zakat didalam Al Quran

Didalam Al Quran, kata zakat terdapat pada 26 ayat yang tersebar pada 15 surat. Ayat dan surat tersebut yaitu sebagai berikut:
  • Didalam Q.S Al Baqoroh ayat: 42, 84, 110, 177, 277.
  • Didalam Q.S Annisa ayat: 77 dan 162.
  • Didalam Q.S Al-Maidah ayat: 12 dan 55.
  • Didalam Q.S Al-A'raaf ayat: 156.
  • Didalam Q.S At-Taubah ayat: 5, 11, 18, dan 71
  • Didalam Q.S Al-Anbiya ayat: 73
  • Didalam Q.S Al-Hajj ayat: 41 dan 78.
  • Didalam Q.S An-Nur ayat: 37 dan 56.
  • Didalam Q.S Annaml ayat: 3.
  • Didalam Q.S Luqman ayat: 4
  • Didalam Q.S Al-Ahzab ayat: 37.
  • Didalam Q.S Fushilat ayat: 7.
  • Didalam Q.S Al-Mujadillah ayat: 13.
  • Didalam Q.S Al Muz'amil ayat: 20.
  • Didalam Q.S Al-Bayyinah ayat: 5.

Awal Diwajibkan Zakat Atau Sejarah Zakat

Mengenai awal diwajibkan zakat ini para ulama berbeda pendapat. Diantaranya Ibnu Khuzaimah mengatakan, "Zakat diwajibkan pada tahun sebelum hijrah". An-Nawawi mengatakan, "Zakat diwajibkan pada tahun kedua dari hijrah". Ibnul Katsir mengatakan, "Pada tahun ke sembilan hijrah". Tetapi pendapat ini terlalu jauh, sebab pada hadits tanya jawabnya Abu Sufyan dengan Hiraklius Kaisar Rum, didalam tanya jawab keduanya, Abu Sufyan sudah menyebut kata-kata: Ia menyuruh kami mengeluarkan zakat. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun ketujuh di awal islam. Imam An-Nawawi menyatakan, "Bahwasannya zakat diwajibkan pada tahun kedua hijrah sebelum diwajibkan Shaum romadhon, sebagaimana ditegaskannya pada cuilan As-sair minar raudhah".
Akan tetapi mengenai resminya turun kewajiban zakat yang diiringi dengan fatwa dan kaifiyat mengeluarkan zakat kebanyakan ulama menyatakan sehabis hijrah. Dan sekali lagi, pendapat yang disebut terakhir ini menjadi pegangan jumhur ulama. Lihat Fathul bari, III:266 dan Misykatul mashabih ma'a syarhihi mura'ah. VI:8.

PENGERTIAN SEDEKAH

Secara etimologis sadaqah berasal dari bahasa Arab yang diambil (musytaq) dari akar kata صدق s-d-q (benar). Karena sadaqah menjadi tanda atau dalil atas kebenaran yang mengeluarkan sadaqah atas keimanannya (lihat Fathul Qodir II/399).

Secara syariah, sadaqah berarti beribadah kepada Allah dengan cara menafkahkan (infaq) sebagian hartanya yang di luar kewajiban syariah.

Kata sadaqah, dalam bahasa Arab, terkadang bermakna zakat wajib.


Secara syariah, sadaqah berarti beribadah kepada Allah dengan cara menafkahkan (infaq) sebagian hartanya yang di luar kewajiban syariah.  Kata sadaqah, dalam bahasa Arab, terkadang bermakna zakat wajib

Rasulullah menjelaskan, ''Sesungguhnya pintu kebajikan itu banyak sekali. Mengucapkan tasbih, tahmid, takbir, tahlil, dengan khidmat dan khusuk adalah sedekah. Mengajak orang kepada yang baik dan melarang dari yang munkar adalah sedekah. Menyingkirkan sebuah batu dari jalan untuk memudahkan orang lewat adalah sedekah. Menuntun orang buta menyeberang jalan adalah sedekah. Memberi petunjuk kepada orang yang bertanya kepadamu adalah sedekah. Memapah orang yang tak berdaya dan mengharapkan bantuan dengan kekuatan dua betismu serta mendukung orang yang lemah dengan kekuatan dua lenganmu adalah sedekah. Dan senyummu bila berhadapan dengan saudaramu adalah sedekah.'' (HR Bukhari-Muslim). 

Dengan kata-kata yang sederhana dan praktis Rasulullah SAW menjelaskan pengertian sedekah tidak hanya terbatas dalam bentuk materi. Sedekah mengandung makna yang lebih tinggi dan lebih luas daripada sekadar pemberian kepada orang lain yang bersifat materi. 

Tidak selamanya sedekah harus berupa benda atau uang. Sedekah memiliki makna yang luas: setiap orang, dalam kondisi apa pun, dapat melakukannya. Islam meluruskan persepsi yang keliru; seolah anggota masyarakat sudah ditakdirkan terdiri dari tingkatan, yaitu 'golongan pemberi', yang memiliki kelebihan dari segi materi dan tak perlu menerima apa-apa karena sudah mampu. Lalu 'golongan penerima', yang tak bisa memberi karena tidak berpunya. Islam membawa pandangan baru bahwa proses memberi dan menerima, sesungguhnya melibatkan semua anggota masyarakat, kaya ataupun miskin, masing-masing bisa berbuat menurut kemampuannya.  

hikmah anjuran bersedekah dalam Islam. Sedekah adalah sumber kebajikan yang menjalin hubungan kemanusiaan dengan empati, kasih sayang, dan persaudaraan. Memberi adalah sumber kebahagiaan, dan seorang Muslim merasa bahagia jika dapat membahagiakan orang lain dengan apa yang ada pada dirinya. Ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, ''Siapakah manusia yang paling baik?'', Rasulullah hanya menjawab, ''Orang yang sanggup memberi manfaat kepada sesamanya!'' 

PENGERTIAN INFAQ

Secara lughawi (etimologis) infaq berasal dari akar kata n-f-q نفض yang berarti membelanjankan harta.

Dalam istilah fiqih infaq (infak) adalah mengeluarkan atau membelanjakan harta yang baik untuk perkara ibadah (mendapat pahala) atau perkara yang dibolehkan.

Dari pengertian di atas, maka menafkahi anak istri termasuk daripada infaq. 

Infaq secara hukum terbagi menjadi: (a) Infaq mubah; (b) infaq wajib; (c) infaq haram; (d) infaq sunnah.

A. Infaq Mubah

Mengeluarkan harta untuk perkara mubah seperti berdagang, bercocok tanam seperti tersebut dalam QS Al-Kahfi 18:43 وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَى مَا أَنفَقَ فِيهَا

B. Infaq Wajib

Mengeluarkan harta untuk perkara wajib seperti 

(i) membayar mahar (maskawin) seperti disebut dalam QS Al-Mumtahanah :10 وَاسْأَلُوا مَا أَنفَقْتُمْ وَلْيَسْأَلُوا مَا أَنفَقُو. 

(ii) menafkahi istri (QS An-Nisa 4:34 الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ). 

(iii) Menafkahi istri yang ditalak dan masih dalam keadaan iddah (QS At-Talaq 65:6-7)
أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنتُم مِّن وُجْدِكُمْ وَلا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ وَإِن كُنَّ أُولاتِ حَمْلٍ فَأَنفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ وَأْتَمِرُوا بَيْنَكُم بِمَعْرُوفٍ وَإِن تَعَاسَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهُ أُخْرَى لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلاَّ مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

Artinya: Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya. 

C. Infaq Haram

Mengeluarkan harta dengan tujuan yang diharamkan oleh Allah yaitu:

(i) Infaqnya orang kafir untuk menghalangi syiar Islam. QS Al-Anfal 8:36 إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّواْ عَن سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً 
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan, 

(ii) Infaq-nya orang Islam kepada fakir miskin tapi tidak karena Allah. QS An-Nisa' 4:38 وَالَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ رِئَاء النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَن يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِينًا فَسَاء قَرِينً

Artinya: Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya. 

D. Infaq Sunnah

Yaitu mengeluarkan harta dengan niat sadaqah. Infaq tipe ini ada 2 (dua) macam yaitu (i) infaq untuk jihad QS Al-Anfal:60. (ii) infaq kepada yang membutuhkan.

DASAR ZAKAT, SADAQAH DAN INFAQ

DALIL  ZAKAT

- QS Al-Baqarah 2:43, 110, 177, 277; An-Nisa' 4:77, 162, Al-Maidah 5:55; Al-A'raf 7:156 
- Sadaqah bermakna zakat: QS At-Taubah 9:60

DALIL SADAQAH

- QS Al-Baqarah 2:271, 276, At-Taubah 9:58
- Hadits riwayat Bukhari: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ( كل معروف صدقة Artinya: setiap perkara kebaikan itu sadaqah.
- Hadits riwayat Abu Daud: جاهدوا المشركين بأموالكم وأنفسكم وألسنتكم
Artinya: berjihadlah dengan harta, fisik dan lisan.

DALIL INFAQ

- QS Al-Isra' 17:100


قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إذًا لأمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الإنْفَاقِ

Artinya: Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". Dan adalah manusia itu sangat kikir. 

- QS Adz-Dzariyat 51:19

وفي أموالهم حق للسائل والمحروم

Artinya: Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. 

- QS Al-Baqarah 2:245
من ذا الذي يقرض الله قرضاً حسناً فيضاعفه له أضعافاً كثيرة

Artinya: Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. 

- Hadits Bukhari & Muslim (muttafaq alaih) أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال : ( قال الله : أَنْفِق يا ابن آدم أُنْفِق عليك
Artinya: Berinfaq-lah wahai anak Adam.

a. Dasar Hukum Zakat 


Zakat adalah konep ajaran Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah bahwa hata kekayaan yang dimiliki sesorang adalam amanat dari Allah dan berfungsi sosial. Dengan demikian zakat adalah kewajiban yang diperintakan oleh Allah SWT. Dan hukumnya adalah fardhu ‘ain. Hal tersebut dapat dilihat dari dalil-dalil, baik yang terdapat dalam Al-Qur’an maupun hadis diantaranya dalam QS. Al-Baqarah (2): 43: 

وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
“Dan dirikanlah shalat, dan tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-oang yang ruku’”. 

Dari pengertian zakat, baik dari segi bahasa maupun istilah tampak berkaitan sangat erat, yaitu bahwa setiap harta yang sudah dikeluarkan zakatnya akan menjadi suci, bersih ,baik, berkah, tumbuh, dan berkembang, sebagaimana dipaparkan dalam Q.S. At-Taubah: 103 : 

ُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيم

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka,dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka,dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. 

Adapun Hadis Nabi SAW yang diteima oleh Abu Huairah, dia berkata: 
Pada suatu hari Rassulullah SAW beserta parra sahabatnya, lalu datanglah seorang laki-laki dan bertanya, “Wahai Rassulullah, apakah Islam itu? Nabi menjawab, “Islam adalah engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukanNya, dan engkau mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan berpuasa di bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari dan Muslim).[1]

Zakat harta mulai difardlukan pada tahun kedua Hijrah, saat Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, turunlah ayat-ayat zakat dengan menggunakan redaksi yang berbentuk ‘amr (perintah). Pada periode ini pula Rasulullah segera memberikan penjelasan tentang jenis-jenis harta yang wajib dizakatkan, kadar dan nisab serta haul zakat. Semula zakat yang diturunkan di Makkah hanya memerintahkan untuk “memberikan hak” kepada kerabat yang terdekat, fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Begitu pula ayat-ayat zakat yang lainnya, masih memakai bentuk “khabariyah”(berita),menilai bahwa penunaian zakat merupakan sikap dasar bagi orang-orang mu’min, dan menegaskan bahwa yang tidak menunaikan zakat adalah cirri-ciri orang musyrik dan kufur terhadap hari akhir. Oleh karena itu pada praktiknya, para sahabat merasa terpanggil untuk menunaikan semacam kewajiban zakat. Meski ayat-ayat zakat yang turun di Makkah tidak menggunakan bentuk ‘amr (perintah).[2]

b. Dasar Hukum Infaq 

Infaq Dalam Hukum Islam

 Infaq adalah mengeluarkan harta yang mencakup zakat dan non zakat,Sedangkan menurut terminologi syariat, infaq berarti mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan/penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan ajaran Islam.

      Infaq berbeda dengan zakat, infaq tidak mengenal nisab atau jumlah harta yang ditentukan secara hukum. Infaq tidak harus diberikan kepada mustahik tertentu, melainkan kepada siapapun misalnya orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin,atau orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dengan demikianpengertian infaq adalah pengeluaran suka rela yang di lakukan seseorang.

      Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa infaq bisa diberikan kepada siapa saja artinya mengeluarkan harta untuk kepentingan sesuatu. Sedangkan menurut islilah syari'at, infaq adalah mengeluarkan sebagian harta yang diperintahkan dalam islam untuk kepentingan umum dan juga bisa diberikan kepada sahabat terdekat, kedua orang tua, dan kerabat-kerabat terdekat lainnya.
        Infaq adalah mengeluarkan harta yang mencakup harta benda yang di
miliki dan bukan zakat. Infaq ada yang wajib dan ada pula yang sunnah. Infaq wajib diantaranya zakat, kafarat, nadzar, dan lain-lain. Infaq sunnah diantara nya, infaq kepada fakir miskin sesama muslim, infaq bencana alam, infaq kemanusiaan, dan lain lain. Terkait dengan infaq ini Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim ada malaikat yang senantiasa berdo’a setiap pagi dan sore : “Ya Allah SWT berilah orang yang berinfaq, gantinya. Dan berkata yang lain : “Ya Allah jadikanlah orang yang menahan infaq, kehancuran”.

Dasar Hukum Infaq :


      Syariah telah memberikan panduan kepada kita dalam berinfaq atau membelanjakan harta. Allah dalam banyak ayat dan Rasul SAW. dalam banyak hadis telah memerintahkan kita agarmenginfaqkan (membelanjakan) harta
yang kita miliki. Allah juga memerintahkan agar seseorang membelanjakan harta untuk dirinya sendiri (QS at-Taghabun: 16) serta untuk menafkahi istri dan keluarga menurut kemampuannya (QS ath-Thalaq: 7). Dalam membelanjakan harta itu hendaklah yang dibelanjakan adalah harta yang baik, bukan yang buruk, khususnya dalam menunaikan infaq (QS al-Baqarah [2]: 267).

       Adapun Infaq yang dilarang adalah isrâf dantabdzîr,yaitu infaq dalam kemaksiatan atau infaq yang haram. Infaq yang diperintahkan adalah infaq yang qawâm, yaitu infaq pada tempatnya;infaq yang sesuai dengan ketentuan
syariah dalam rangka ketaatan kepada Allah; alias infaq yang halal. Infaq yang
demikian terdiri dari infaq wajib, infaq sunnah dan infaq mubah. Infaq wajib
dapat dibagi:11 salah satunya adalah yang pertama, infaq atas diri sendiri,
keluarga dan orang-orang yang nafkahnya menjadi tanggungan. Kedua, zakat.
      Dan infaq di dalam jihad. Infaq sunnah merupakan infaq dalam
rangka hubungan kekerabatan, membantu teman, memberi makan orang yang
lapar, dan semua bentuk sedekah lainnya. Sedekah adalah semua bentuk infaq dalam rangka atau dengan niat ber-taqarrub kepada Allah, yakni semata-mata
mengharap pahala dari Allah Swt. Adapun infaq mubah adalah semua infaq
halal yang di dalamnya tidak terdapat maksud mendekatkan diri kepada Allah.


Islam telah memberikan panduan kepada kita dalam berinfaq atau membelanjakan harta. Allah dalam firman-Nya begitupula Rasul SAW dalam Sabdanya mmerintahkan agara menginfakkan (membelanjakan) harta yang di miliki. Begitu pula membelanjakan harta untuk dirinya sendiri seperti dalam Al-Qur’an Surat At-Taghabun : 16.

Adapun dasar hukum infaq telah banyak dijelasakan dalam Al-Qur’an, seprti dalam Al-Qur’an Surat Adz-Dzariyat (51): 19

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقُّ لِّلسَّآئِلِ وَالْمَحْرُومِ

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.

Selain itu dalam QS. Ali Imran(3): 134

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِي

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Berdasarkan firman Allah di atas bahwa Infaq tidak mengenal nishab seperti zakat. Infaq dikeluarkan oleh setiap orang yang beriman, baik yang berpenghasilan tinggi maupun rendah, apakah ia disaat lapang maupun sempit. Jika zakat harus diberikan pada mustahik tertentu (8 asnaf) maka infaq boleh diberikan kepada siapapun juga, misalkan untuk kedua orang tua, anak yatim, anak asuh dan sebagainya. Dalam QS. Al-Baqaah(2): 215 dijelaskan sebagai berikut :

يَسْئَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلْ مَآأَنفَقْتُم مِّن خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَاْلأَقْرِبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنَ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللهَ بِهِ عَلِيمُُ

“ Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." dan apa saja kebaikan yang kamu buat, Maka Sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya.”

c. Dasar Hukum Shadaqah 

Shadaqah adalah pengeluaran sukarela yang dilakukan seseorang setiap kali ia memperoleh rezeki sebanyak yang dikehendakinya sendiri. Dalam tinjauan hukum shadaqah bisa dihukumi wajib ketika berbentuk: zakat, Nafkah dan Nadzar sedangkan berkekuatan hukum Sunnah ketika: Hadiah, Hibah, Wakaf, Ujrah, Sewa, Barter, Hutang dll. Shadaqah sunnat dapat dilakukan kapan saja, saat mereka lapang atau ada tuntutan sosial untuk melakukannya dan termasuk salah satu dari jalan yang Allah perintahkan kepada umat Islam.

Akan tetapi, khusus untuk shadaqah tehadap faki miskin, Rasulullah SAW sangat menekankan pada saat bulan Ramadhan, hal ini sangat logis karena tidak sedikit kalangan mereka yang tidak dapat melaksanakan kewajiban ibadahnya di bulan Ramadhan disebabkan harus bekerja keras yang memeras tenaga.

Sabda Rasulullah SAW “Dari Annas RA, dia berkata bahwasanya Rasulullah SAW pernah ditanya shadaqah mana yang lebih baik, Beliau menjawab shadaqah di bulan Ramahan (HR. At-Timidzi)”

PERBEDAAN ZAKAT, INFAQ DAN SEDEKAH (SHADAQAH)

Apa perbedaan secara sederhana antara Zakat, Infaq dan Sadaqah?

Assalamualaikum Wr. Wb.

Saya Ali, di Medan, ingin bertanya:
1. Apa perbedaan secara sederhana antara Zakat, Infaq dan Sadaqah?

2. Orang tua kami adalah pensiunan swasta, usia 60 tahun-an, tidak mempunyai penghasilan lagi maupun asuransi, ada harta warisan sedikit, kemungkinan sudah mulai habis. selama ini mereka bergantung atas kiriman uang anak-anaknya, insaallah dengan itu mereka dapat hidup sederhana. apakah jika kami mengirimi mereka uang, dapat digolongkan sebagai infak atau sadaqah? apakah perlu diniatkan demikian? atau memang merupakan suatu kewajiban?, sehingga tidak tergolong kepada keduannya. 

3. Apakah seseorang yang menggunakan parfum yang mengandung alkohol maka Sholatnya atau Ibadah lainnya menjadi tidak sah? karena banyak perbedaan pendapat mengenai hal ini.

Tata Cara Perhitungan Zakat Harta dan Dasar Perhitungannya

kali ini Informasi Ahli akan membahas mengenai tata cara perhitungan zakat harta dan dasar perhitungannya.

1. Emas, Perak dan Uang (Simpanan)

Emas dan perak merupakan logam mulia yang merupakan tambang elok, sering dijadikan perhiasan dan juga dijadikan mata uang yang berlaku dari waktu ke waktu. Semua ulama sepakat bahwa harta yang berupa emas dan perak ini harus dikeluarkan zakatnya, karena secara syariat Islam memandang emas dan perak potensial hidup dan berkembang, sesuai dengan Firman Allah SWT yang berbunyi : “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan erak dan tidak menafkahkan pada jalan Allah maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengan dari mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu“.(Alquran Surah At Taubah 9: 34-35).
Hadist Nabi SAW, “Tiadalah bagi pemilik emas dan perak yang tidak menunaikan hak (zakat)nya, melainkan di hari kiamat ia di dudukkan di atas pedang batu yang lebar di dalam neraka. Maka dibakar di dalam jahannam, disetrika dengan pipi, kening, dan punggungnya. Setiap api itu padam, maka dipersiapkan lagi baginya (hal serupa) untuk jangka waktu 50 (lima puluh) ribu tahun, hingga selesai pengadilan umat manusia semuanya. Maka ia melihat jalannya, apakah ke surga atau ke neraka“. (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
Nishab zakat emas untuk 20 Dinar, yaitu setara dengan 85 gram emas murni, sedangkan untuk nishab zakat perak adalah 200 dirham, yaitu setara dengan 672 gram perak, artinya jika seseorang telah memiliki emas atau perak yang nilainya mencapai 20 dinar atau 200 dirham dan telah memiliki selama satu tahun maka sudah terkena kewajiban membayar zakat sebesar 2,5%, sesuai dengan Hadist Nabi mengalami ulang tahun (haul), maka zakatnya 5 dirham. Dan kamu tidak mempunyai kewajiban apa-apa (maksudnya mengenai emas), sehingga kamu telah memiliki 20 dinar dan telah mengalami ulang tahun, maka zakatnya 1/2 dinar. Jika lebih, maka diperhitungkanlah seperti itu”. (HR. Abu Daud dari Ali Bin Abi Thalib ra).
Perhiasan wanita yang khusus untuk pemakaian pribadi tidak wajib dizakati selama tidak melebihi batas kewajaran antara wanita-wanita lain yang berada di dalam status sosial yang sama, sedangkan perhiasan yang melebihi batas kewajaran harus dibayar zakatnya karena kepemilikan perhiasan sama dengan menimbun dan menyimpan sesuatu harta. Seorang wanita harus membayar zakat perhiasan yang sudah tidak dipakai lagi karena sudah lama atau sebab-sebab lainnya.
Perhiasan emas yang dipakai atau dimiliki oleh lelaki harus dilakukan pembayaran zakatnya, seperti gelang dan jam tangan, begitu juga wanita yang memakai perhiasan lelaki harus membayar zakatnya karena haram bagi dirinya, sementara cincin perak tidak dikenakan kewajiban zakat karena halal dipakai oleh lelaki. Banyaknya zakat untuk perhiasan emas dan perak 2,5 %.
Untuk segala macam bentuk simpanan uang seperti tabungan, deposito, cek, obligasi, saham atau surat berharga lainnya termasuk di dalam kategori penyimpanan emas dan perak, sehingga penetapannishab dan besarnya zakat disetarakan dengan ketentuan zakat pada emas dan perak. Artinya jika seseorang memiliki bermancam-macam bentuk harta dan jumlah akumulasinya lebih besar atau sama dengan nishab (85 gram emas/ 672 gram) maka ia telah terkena kewajiban zakat (2,5 %).
Demikian juga terhadap harta kekayaan lainnya seperti rumah, villa, tanah, kendaraan dan lain-lain yang melebihi keperluan menurut syara’ atau dibeli atau dibangun dengan tujuan investasi dan sewaktu-waktu perniagaan atau perdagangan itu, jika cukup satu nishab maka wajib dibayarkan zakatnya.
Bentuk-bentuk kekayaan yang dimiliki oleh suatu badan usaha tidak akan lepas dari salah satu atau lebih dari tiga hal, yaitu :

a. kekayaan di dalam bentuk barang.
b. uang tunai atau simpanan bank.
c. piutang.
Jadi, yang termasuk harta perniagaan yang wajib dizakati yaitu ketiga bentuk harta di atas setelah dikurangi dengan kewajibannya seperti pajak dan hutang yang harus dibayar ketika sudah jatuh tempo.
2. Hasil Pertanian
Hasil tumbuh-tumbuhan atau tanaman yang bernilai ekonomis seperti : padi; biji-bijian (jagung, kedelai); umbi-umbian (ubi kentang, ubi kayu, ubi jalar, jahe); sayur-sayuran (bawang, mentimun, kol, bit, wortel, petai, bayam, sawi, cabai); buah-buahan (kelapa, pisang, durian, rambutan, duku, salak, apel, jeruk, pepaya, nanas, kelapa sawit, mangga, alpukat, pala, lada, pinang); tanaman hias (anggrek, segala jenis bunga termasuk cengkeh); rumput-rumputan (sere atau minyak sere, bambu, tebu); daun-daunan (teh, tembakau, vanili); kacang-kacangan (kacang hijau, kedelai, kacang tanah) sesuai dengan Firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (ke jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu“. (Alquran Surah Al Baqarah 2: 267).
Dan dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermancam-macam buahnya, zaitun, dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), serta tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah engkau berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan“. (Alquran Surah Al An’am 6: 141).
Nishab Zakat hasil pertanian ini yaitu lima wasq yang setara dengan 653 Kg gabah/ 520 kg beras. Jika hasi pertanian merupakan makanan pokok seperti beras, jagung, gandung, kurma dan lain-lain maka nishabnya setara dengan 653 kg gabah/ 520 kg beras dari hasil pertanian tersebut, akan tetapi jika hasil pertanian berupa buah-buahan, sayur-sayuran, daun, bunga dan lain-lain maka nishab disetarakan dengan harga nishab makanan pokok yang paling utama di negara yang bersangkutan.
Untuk kadar zakat hasil pertanian jika diairi dengan air hujan, sungai dan mata air, maka kadar zakatnya adalah 10% (sepuluh persen), sedangkan diairi dengan sistem irigasi karena memerlukan biaya tambahan, maka kadar zakatnya adalah 5% (lima persen) sesuai dengan Hadist Nabi SAW, “Tidak ada sedekah (zakat) pada biji dan buah-buahan, sehingga sampai banyaknya lima wasaq“. (Riwayat Muslim).
Dari Jabir, Nabi MUhammad SAW bersabda, “Pada biji yang diari dengan air hujan maka zakatnya 1/10 bagian dan yang diairi dengan kincir atau ditarik oleh binatang, zakatnya 1/20” (HR. Ahmadi, Muslim da Nasa’i).
Dalam sistem pertanian dewasa ini komponen biaya yang dikeluarkan oleh petani tidak hanya sekedar air tetapi biaya-biaya lain seperti insektisida, pupuk, perawatan dan lain-lain. Oleh karena itu, kadar zakat tanaman dan buah-buahan yang wajib dikeluarkan berbeda-beda mengikuti sistem yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan air (pengairan) yaitu :
a. Jika pengairannya dilaksanakan tanpa mengeluarkan pembiayaan, kadar zakat yang wajib dikeluarkan 10%.
b. Jika pengairannya dilaksanakan dengan mengeluarkan pembiayaan yang tinggi, seperti mengikutsertakan tenaga manusia untuk mengatur sirkulasi airnya dengan menggunakan peralatan atau harus membeli air, kadar zakat yang wajib dikeluarkan 5%.
c. Jika pengairan dilaksanakan dengan menggunakan kedua sistem di atas, kadar zakat wajib dikeluarkan adalah berdasarkan pada sistem yang lebih banyak digunakan, yaitu 7,5%.

Tujuan Zakat, Infaq dan Shadaqah 
Zakat memiliki banyak arti dalam kehidupan umat manusia terutama Islam. Zakat merupakan ibadah yang memiliki dimensi ganda, vertikal dan horizontal. Arti secara vertikal, zakat sebagai ibadah dan wujud ketaqwaan serta rassa syukur sseorang hamba kepada Allah atas nikmat berupa hata yang diberikan Allah kepadanya seta untuk membersihkan dan mensucikan diri dan hartanya itu. Dalam konteks ini zakat bertujuan untuk menata hubungan seorang hamba dengan Tuhannya sebagai pemberi rizki. Sedangkan secara horiontal zakat bertujuan untuk mewujudkan rasa keadilan sosial dan kasih sayang diantara orang yang mampu dengan orang yang tidak mampu dan dapat memperkecil problema dan kesenjangan sosial serta ekonomi umat.[1]

Ada beberapa tujuan zakat, infaq dan shadaqah anatara lain: 

  1. Mengangkat derajat fakir miskin dan membantunya ke luar dari kesulitan hidup dan penderitaan;
  2. Membantu pemecahan masalah yang dihadapi oleh gharim, ibnussabil, dan mustahiq dan lain-lainnya;
  3. Membentangkan dan membina tali persaudaraan sesama umat Islam dan manusia pada umumnya;
  4. Menghilangkan sifat kikir, dengki dan isi hati;
  5. Menjembatani juang pemisaH antara yang kaya dengan yang miskin;
  6. Mengembangkan rasa tanggungjawab sosial pada diri seseorang, terutama pada mereka yang mempunyai harta;
  7. Mendidik manusia untuk disiplin menunaikan kewajiban dan menyerahkan hak orang lain yang ada padanya.
  8. Membantu negara untuk memberantas kemiskinan atau mensejahterakan masyarakat;
  9. Sarana pemerataan pendapatan (rezeki) untuk mencapai keadilan sosial.[2]

Adapun menurut Yusuf Qardhawi, tujuan zakat terbagi dua yaitu: 
  1. Untuk kehidupan individu, meliputi pensucian jiwa dari sifat kikir, mengembangkan sifat suka berinfaq dan ssuka memberi, mengobati hati dari cinta dunia, mengembangkan kekayaan batin dan menumbuhkan rasa simpati dan cinta sesama manusia. Dengan ungkapan lain esensi dari semua tujuan tersebut adalah pendidikan yang bertujuan untuk memperkaya jiwa manusia dengan nilai-nilai spiritual yang dapat meningkatkan harkat dan martabat manusia.
  2. Memiliki dampak kehidupan kemassyarakatan secara luas. Dari segi kehidupan masyarakat zakat merupakan bagian dari sistem jaminan sosial dalam Islam. Kehidupan masyarakat sering terganggu oleh problem kesenjangan, gelandangan, problem kematian dalam keluarga dan hilangnya perlindungan, bencana alam maupun kultuan dan sebagainya.[3]
b. Hikmah Zakat, Infaq dan Shadaqah 
Zakat, infaq dan shadaqah memiliki banyak hikmah, baik yang berkaitan dengan hubungan manusi dengan Tuhannya (hablumminallah), maupun hubungan sosial kemasyarakatan di antara manusia (hablumminannas). Adapun hikmahnya anatara lain: 
  1. Mensyukuri karunia Ilahi, menumbuh suburkan harta dan pahal seta membersihkan diri dari sifat kiki, dengki dan iri hati.
  2. Mewujudkan kesejahteaan masyarakat yang ditandai dengan adanya hubungan seseorang denga yang lainnya rukun, daman dan harmonis, sehingga terciptanya ketentraman dan kedamaian lahir dan batin.
  3. Melindungi masyarakat dari bahaya kemiskinan dan kemelaratan.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Asnaini, Zakat Produktif dalam Perspektif Hukum Islam,(Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2008), h. 42. 
[2] Elsi Kartika Sari, Pengantar Hukum Zakat dan Wakaf, (Jakarta: PT Grasindo, 2007), h. 12-13. 
[3] Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat, (Jakarta: Lentera, 1991), hal. 848-881.

Sekian tulisan informasi mengenai tata cara perhitungan zakat harta dan dasar perhitungannya, semoga tulisan mengenai tata cara perhitungan zakat harta dan dasar perhitungannya dapat bermanfaat.




pengertian zakat macam macam zakat serta infaq dan sedekah lengkap