Kanker payudara masih menjadi momok bagi kita, kaum perempuan. Selebritas dunia, Angelina Jolie adalah satu contoh penyintas yang selamat. Tapi sejumlah artis di Indonesia tutup usia lantaran jadi korban keganasan kanker ini. Sebut saja di antaranya pesinetron Yana Zein, kankernya sudah stadium IV dan tak tertolong. Nama lain yang populer yakni Diana Nasution. Penyanyi senior dari era 1970 dan 1980-an ini sempat dinyatakan sembuh oleh dokter, tapi akhirnya meninggal pada 2013.

Berbagai kasus tersebut menimbulkan seruan untuk menyetop, paling tidak meminimalisir pemakaian bra kawat. Konon, hubungan bra dengan kanker payudara sudah muncul sejak terbitnya buku yang ditulis Sydney Ross dan Soma Grismajier pada 1995, Dressed to Kill: The Link Between Breast Cancer and Bras. Alhasil, muncul gerakan anti-bra, atau tak menggunakan bra di penjuru dunia. Klaimnya, payudara lebih sehat tanpa bra, dan dapat terhindar dari kanker payudara. Nikita Mirzani termasuk pegiat gerakan ini. Ia kerap tampil tanpa bra.

Penelitian pada beberapa tahun terakhir mematahkan mitos terbesar di kalangan kaum perempuan ini. Pada 2014 Institut Kanker Nasional (NCI) milik Amerika Serikat merilis jurnal setelah membuat studi terhadap 1.500 relawan wanita. Kesimpulannya, keterkaitan bra dengan kanker payudara adalah nol besar.

Lalu apakah faktor yang dapat memicu kanker payudara? Seperti kanker lainnya, ada penyebab internal dan eksternal. Yang dimaksud faktor internal adalah:

  1. Keturunan

Perempuan yang memiliki ibu penderita kanker payudara memiliki risiko tinggi menderita penyakit serupa. Selain itu, mutasi gen dari orang tua (ayah dan ibu) seperti BRCA 1 dan BRCA 2 juga memungkinkan munculnya kanker. Biasanya, gejala kanker muncul di atas usia 50 tahun. Kamu wajib waspada jika memasuki usia tersebut.

  1. Riwayat Penyakit

Seseorang yang pernah mengidap kanker, berobat, kemudian sembuh, masih ada kemungkinan muncul lagi. Maka, kamu patut waspada jika mengalami ini. Sebabnya, kanker payudara tak jarang timbul lantaran kasus tersebut, pernah mengalami kanker di bagian tubuh lain.

  1. Menstruasi Terlalu Muda

Perempuan yang pertama kali menstruasi sebelum umur 10 tahun, memiliki risiko lebih tinggi terhadap munculnya kanker payudara.

  1. Menapouse Terlalu Tua

Selain waspada terhadap usia awal muncul menstruasi, kaum perempuan juga harus memerhatikan umur saat menopause. Kalau di atas 55 tahun, maka berisiko tinggi terhadap munculnya kanker payudara.

Faktor eksternal

  1. Obesitas

Kegemukan atau obesitas membuat jaringan lemak memproduksi hormon estrogen. Kadar lemak yang tinggi ini memicu tumbuhnya kanker. Pada buku Dressed to Kill yang disebut di atas, disebutkan bra berkawat paling tinggi memicu kanker payudara. Setelah diselidiki, ternyata kemunculan kanker mayoritas pada perempuan obesitas. Mereka cenderung memilih bra berkawat agar dapat menopang payudara, ketimbang perempuan langsing. Jadi, pemicunya bukan lantaran bra, tapi kegemukan.

  1. Anak Pertama di Usia Tua

Memiliki anak memang misteri Tuhan, karena anak adalah rejeki sekaligus tanggung jawab yang dititipkan Tuhan pada orang tua. Seringkali, memiliki anak muncul karena tekanan dari keluarga atau lingkungan. Akhirnya, berupaya punya anak dengan berbagai cara. Terkadang, usia ibu sampai mendekati 40 tahun tetap dipaksakan punya anak. Para peneliti di organisasi kanker payudara internasional menemukan, ibu yan melahirkan di usia tua tersebut punya risiko tinggi dengan kanker payudara.

  1. Alat Kontrasepsi Hormonal

Selain ingin punya anak, sebagian ibu justru memakai alat kontrasepsi agar tak kebobolan. Sebenarnya, mereka wajib waspada terhadap alat kontrasepsi hormonal seperti pil, suntik, atau implan yang digunakan rutin atau lebih dari 8 tahun. Pasalnya, hal ini menambah tinggi terkena kanker payudara. Menurut Dokter Spesialis Bedah Konsultan Onkolgi, M. Yadi Permana, kita harus mau mengubah pola hidup agar lebih sehat. Selain tidak obesitas, juga sebaiknya menghindari kontrasepsi hormonal, bahkan mengonsumsi alkohol.