Pembahasan Tentang Aqiqah dalam Kalangan Masyarakat

  • 2 min read
  • Sep 17, 2019
Pembahasan Tentang Aqiqah

Dalam perayaan penyambutan bayi yang di lakukan umat islam (aqiqah). Masih banyak orang yang bertanya-tanya mengenai pendapat tentang hal tersebut.

Pada pembahasan artikel kali ini kami telah menyediakan Anda Pembahasan Tentang Aqiqah, yang masih sering kali di tanyakan oleh kalangan masyarakat yang masih belum sepenuhnya mengerti tentang hal ini. Anda juga bisa mengunjungi situs Aqiqah Bekasi, untuk dapat melihat informasi mengenai aqiqah lebih banyak di sana. Di bawah ini kami telah menyediakan beberapa pertanyaan serta jawaban mengenai pembasan tersebut.

Pertanyaan

Apa pentingnya Aqiqah (pengorbanan yang dilakukan pada saat kelahiran anak) dalam Islam? Saya telah membaca di Sahih Bukhari :

Diceritakan Salman bin ‘Amir Ad-Dabbi : Saya mendengar Rasul Allah berkata, ” Aqiqah harus dipersembahkan untuk anak laki-laki (yang baru lahir), jadi pembantaian (seekor binatang) untuknya, dan membebaskannya dari penderitaannya.” (Catatan: Itu telah dikutip dalam Fath Al-Bari bahwa mayoritas Cendekiawan Agama setuju dengan Hadits yang diriwayatkan dalam Sahih Al-Tirmidzi bahwa Nabi ditanya tentang Aqiqah dan ia memesan 2 domba untuk seorang anak laki-laki.

Jutaan Muslim khususnya di Indo-Pak percaya bahwa ” Aqiqah ” penting dalam kehidupan seorang anak. Jika orang tua tidak melakukan ” Aqiqah ” untuk seorang anak, anak selalu tetap di bawah malapetaka dan selalu menghadapi masalah dalam kehidupan. Seberapa benarkah konsep itu? Saya akan menghargai jika Anda bisa menguraikannya dalam terang Quran dan Sunnah.

Menjawab

Tidak benar menganggap ‘Aqiqah’ hanya sebagai pengorbanan. Sebaliknya, ‘Aqiqah’ adalah nama dari tradisi yang sedang berlangsung di antara orang-orang Arab, di mana seekor hewan dikorbankan dan darahnya dituangkan ke atas kepala anak itu, setelah itu, kepala anak itu dicukur. Dipercayai bahwa sampai tindakan seperti itu dilakukan atas anak itu, anak itu tetap menjadi korban bencana dan penderitaan.

Ketika Nabi ditanya tentang kebiasaan ini, ia dilaporkan menjawab bahwa ia tidak menyetujuinya (Aqiqah). Namun, pada saat kelahiran seorang anak, jika ada yang mau mengorbankan seekor binatang sebagai tanda terima kasih kepada Tuhan karena telah diberkati dengan seorang anak, ia mungkin melakukannya.

Penjelasan Lebih Lanjut mengenai Pembahasan Tentang Aqiqah

Jika kita meneliti dengan cermat semangat dan praktik Aqiqah, kita dapat dengan mudah melihat bahwa kebiasaan itu didasarkan pada takhayul tentang masa depan anak, yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Jelas bahwa pada tahap tertentu, di usia anak, ‘Aqiqah’ tidak bisa menjadi kewajiban atas anak. Yang paling bisa dikatakan adalah itu wajib bagi orang tua anak.

Namun, jika itu masalahnya, lalu mengapa anak itu harus dihukum seumur hidupnya, jika orang tuanya gagal memenuhi sesuatu yang diwajibkan bagi mereka? Seluruh konsep tampaknya tampaknya tidak konsisten dengan ajaran dasar Islam, yang menurutnya setiap individu hanya bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Jadi, menurut pendapat saya, tampaknya Nabi (saw) dilaporkan dengan benar telah menghalangi orang untuk menegakkan adat yang dimaksud.

Namun demikian, dalam narasi yang sama, Nabi (saw) juga dilaporkan telah mendorong ayah dari anak yang baru lahir untuk mempersembahkan kurban, sebagai tanda terima kasih dan rasa terima kasih kepada Tuhan mereka, karena memberkatinya dengan seorang anak.

Selama bertahun-tahun, kebiasaan berkorban ini kemudian dikenal sebagai ‘Aqiqah’, sedangkan, ‘Aqiqah’, pada kenyataannya, merupakan kebiasaan yang terpisah. Demikian artikel Pembahasan Tentang Aqiqah, ini saya buat. Semoga bermanfaat untuk Anda, terimakasih.